JPNN.com

Suara Warga Korban Tsunami: Daging Banyak Tetapi Nasi Tidak Ada

Selasa, 13 Agustus 2019 – 07:49 WIB Suara Warga Korban Tsunami: Daging Banyak Tetapi Nasi Tidak Ada - JPNN.com

jpnn.com - Hari raya Iduladha mendatangkan “berkah” bagi masyarakat di Kabupaten Serang dan Pandeglang, yang sebagian kehidupan ekonominya masih masuk kategori miskin.

Mesya M, Pandeglang


Warga Desa Kramatlaban, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, tampak sibuk, Senin (12/8). Anak-anak, ibu-ibu, hingga bapak-bapaknya berkumpul seperti akan menyambut tamu penting.

Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, masyarakat desa ini berusaha ingin menjadi tuan rumah yang baik saat rombongan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) datang.

Berbagai sajian khas Serang seperti kue jojorong, sarikaya disiapkan untuk rombongan perempuan berbaju seragam. Ada juga hasil kebun seperti jeruk, kelapa muda, pepaya, dan pisang.

Bagi warga desa, tamu dari Jakarta adalah berkah. Dan, memang benar, rombongan DWP Kemendikbud ini mengantarkan dua ekor sapi untuk Desa Kramatlaban.

Suara Warga Korban Tsunami: Daging Banyak Tetapi Nasi Tidak Ada

Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kemendikbud menyalurkan hewan kurban. Foto: Mesya/JPNN.com

Sebenarnya ada 8 ekor sapi dan 6 kambing yang disumbangkan DWP Kemendikbud. Namun, itu dibagi untuk dua wilayah lainnya juga yaitu Kecamatan Cadasari dan Carita, Kabupaten Pandeglang.

Banyak cerita yang terungkap dari masyarakat. Setiap kali ada Iduladha, mereka pasti senang karena bisa makan daging. Isney, buruh tani di Desa Kramatlaban mengungkapkan, sangat jarang mereka mendapatkan pasokan daging dari Kabupaten Serang. Selain jaraknya yang cukup jauh dari kota, masih banyak wlayah miskin di Serang.

"Mungkin karena banyak desa miskin, makanya tidak bisa meng-cover semua. Kami baru dapat sumbangan sapi dari Kemendikbud saja," ujar bapak dua anak ini saat ditemui JPNN, Senin (12/8).

BACA JUGA: Ibu-ibu dari Kemendikbud Tidak Mau Sembarangan Salurkan Hewan Kurban

Dia mengungkapkan, ada 350 kepala keluarga yang tinggal di Desa Kramatlaban. Hampir semuanya hidup di bawah garis kemiskinan. Kalaupun ada yang agak mapan bisa dihitung dengan jari.

Penduduknya sebagian besar jadi buruh tani dengan upah Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Dia mengungkapkan, tanah luas dan rumah bagus itu milik warga pendatang. Rumah warga asli, mayoritas hanya gubuk dengan lantai tanah.

Isney dan para laki-laki di Desa Kramatlaban ini sebenarnya ingin mendapatkan pekerjaan layak. Namun, tidak ada pekerjaan lain selain buruh tani. Mereka enggan merantau ke Jakarta karena menurutnya itu bukan solusi tepat.

Akhirnya, para wanitanya yang memilih kerja jadi TKW. Sebagian lagi bekerja jadi asisten rumah tangga di Jakarta dan sekitarnya.

"Di sini 350 kepala keluarga hidup di bawah garis kemiskinan, Mereka bisa makan daging setahun sekali. Itupun kalau ada yang nyumbang," kata Machdum Bachtiar tokoh masyarakat Kampung Rancaranji, Desa Kramatlaban, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

Dia menceritakan, saat warga desa lainnya bisa makan daging sejak Iduladha hari pertama, rakyat di sini "berpuasa". Beruntung, sehari setelah Iduladha, mereka bisa makan daging.

Kisah lainnya datang dari warga korban tsunami Banten, 22 Desember 2018. Lima bulan terakhir 284 KK yang tinggal di hunian sementara (huntara) hidup dalam keprihatinan.

Sumbangan yang datang semakin berkurang. Sangat berbeda di awal-awal kejadian tsunami. Saat itu bantuan melimpah.

"Dulu awal-awal gempa, banyak sekali sumbangan. Warga hidup enak karena semuanya ada tapi kemudian mulai Februari 2019, sumbangan makin menipis. Dan, benar-benar kekurangan dalam lima bulan terakhir," terang Lilis Wati, guru PNS yang merupakan pengurus korban tsunami Kecamatan Carita.

Sumbangan yang makin menipis dan belakangan tidak ada lagi membuat tidak sedikit yang menjadi pengemis. Minta-minta di jalanan, ke rumah warga, dan lainnya. Yang punya sepeda motor memilih menjadi tukang ojek.

Sedangkan ibu-ibunya ada yang berjualan makanan. Dari sumbangan yang tersisa, dijadikan modal usaha kecil-kecilan.

Sejatinya, penduduk di Kecamatan Carita, sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Akibat tsunami Banten, seluruh perahu mereka hancur. Mereka terpaksa jadi pengangguran dan hidup dari belas kasihan orang.

Ingin kembali menjadi nelayan, mereka tidak punya modal lagi. Untuk membuat perahu butuh dana yang tidak sedikit.

Kini di tengah minimnya bantuan yang datang, warga korban tsunami kembali diperhatikan saat Iduladha. Mereka mendapatkan banyak daging kurban. Sayangnya daging tersebut belum bisa mengenyangkan perut mereka.

"Kalau daging alhamdulillah melimpah sekarang di huntara. Namun, warga butuh nasi. Kemarin masing-masing KK dapat satu liter beras buat teman makan daging," ujar Lilis.

Mendengar itu, perwakilan dari DWP Kemendikbud Rina Andriani Maman Wijaya mengatakan akan memberikan tambahan bantuan beras. Sebab masih banyak yang ingin memberikan bantuan.

"Saya terharu dengar cerita warga korban tsunami. Daging kurbannya banyak tapi nasinya enggak ada. Insyaallah, kami mengirimkan bantuan berasnya dalam waktu dekat ini," tuturnya.

DWP, lanjutnya, berupaya menyalurkan sumbangan ke masyarakat yang benar-benar kekurangan. Mereka tidak memilih perkotaan karena banyak sumbangan mengalir di sana.

Dia berharap sumbangan berupa hewan kurban dan lainnya yang berasal dari anggota DWP serta sejumlah pegawai Kemendikbud bisa memberikan kebahagiaan pada warga kurang beruntung..

"Mudah-mudahan ke depan, hewan kurban yang diserahkan semakin banyak dan wilayahnya menyebar," tandasnya. (esy/jpnn)

 

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...