Sudah ya Nak, Banyak Temanmu Nanti di Sana

Sudah ya Nak, Banyak Temanmu Nanti di Sana
Regina memeluk Intan Nurmala Sari sesaat sebelum petugas BKSDA mengevakuasinya. Foto: EDWIN AGUSTYAN/KALTIM POST/JPNN.com

Dia menemukan air aki dan meminumnya. “Seharian Gina diare,” ungkapnya.

Selama ini, Intan menyebut tidak menutupi kalau keluarganya memelihara orangutan. Mereka juga tahu bila binatang dengan deoxyribonucleic acid (DNA) yang 97 persen (hasil penelitian Washington University's Genome Center) mirip manusia itu dilindungi.

Bahkan puskesmas, sebut dia, sudah dua kali melakukan vaksin terhadapnya. “Kalau tidak salah suntik rabies,” jelasnya.

Gina juga jarang dirantai. Karena sudah sangat jinak dia diberi keleluasaan bergerak. Lehernya baru diberi rantai dan diikat di pohon jika tidak ada yang menjaga. “Kami takut kalau cari makan ke kebunnya orang,” akunya.

Perempuan berjilbab itu mengaku berat untuk melepas Gina. Terlebih dua dari empat anaknya sangat dekat. Dia bahkan sudah menganggap orang utan itu anak sendiri.

Tak heran jika saat Gina dievakuasi diiringi tangisan. Terutama Riska. Namun, dia sadar bahwa orangutan itu harus diserahkan agar bisa kembali hidup di habitatnya.

“Sudah, ya, Nak. Banyak temanmu nanti di sana,” kata Intan, kepada Gina, yang sudah dalam kandang.

Suparman menyampaikan, Regina datang ke rumahnya pada 2013 bertepatan dengan pembukaan lahan sawit di sekitar Gunung Tongkat, Kutim. Lokasinya tidak jauh dari Guntung. “Dia jalan dari arah sana (Gunung Tongkat),” katanya.

Regina, orang utan yang sudah bertahun- tahun hidup bersama warga itu akhirnya diambil BKSDA untuk dikembalikan ke habitatnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News