Sukses Rebut Pulau Kepayang dari Tangan Tommy Soeharto

Sukses Rebut Pulau Kepayang dari Tangan Tommy Soeharto
KONSERVASI LINGKUNGAN: Budi Setiawan (kiri) dan salah seorang aktivis KPLB menunjukkan penyu-penyu sisik yang ditangkarkan di Pulau Kepayang. Sugeng Sulaksono/Jawa Pos/JPNN.com

Budi dengan KPLB-nya dipercaya pemerintah untuk mengelola pulau tersebut. Tapi, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, pulau cantik tersebut dulu sempat ’’dikuasai’’ para pemilik modal dari Jakarta yang ingin memilikinya. Di antaranya, pengusaha Eddy Sofyan dan Tommy Soeharto, bungsu presiden kedua Indonesia.

Saat itu, privatisasi pulau sedang marak dan menjadi kontroversi. ’’Ancaman paling nyata dari privatisasi pulau saat itu adalah kepunahan penyu di pulau ini. Apalagi para pemodal berencana membangun hotel di kawasan pantai yang justru merusak lingkungan. Untungnya, hotel tak jadi didirikan,’’ papar pria kelahiran Lassar, Belitung, 3 November 1976, tersebut.

Budi lalu memosisikan diri sebagai mitra pemerintah yang siap mengelola lingkungan pulau tersebut. ’’Tanpa dikelola dengan baik, pulau itu akan rusak dan ekosistem di sekitarnya punah. Selain itu, tidak mendatangkan income bagi pemerintah daerah,’’ tuturnya.

Perjuangan pembebasan pulau tersebut dimulai pada 2006. Dengan langkah teknis yang diusulkan, Budi berhasil meyakinkan pemerintah bahwa ada cara untuk kembali menguasai pulau itu. Dia juga mengusulkan pulau tersebut dijadikan tempat tujuan wisata yang bisa mendatangkan pemasukan bagi pemerintah daerah.

Dalam proses pembebasan itu, Budi menghadapi banyak rintangan. Ketika akhirnya yayasannya (KPLB) mendapat izin untuk mengelola pulau tersebut, Budi digeruduk wakil dari pihak yang mengaku pemilik sah atas pulau itu.

’’Memang datangnya baik-baik, tapi tujuannya mau mengusir kami. Mereka kasih kami kertas untuk ditandatangani yang intinya meminta kami meninggalkan pulau ini. Tapi, landasan kami kuat. Jadi, akhirnya kami yang menang,’’ ungkapnya berkisah.

Suami Rica Kurniasih itu sadar bahwa dirinya berhadapan dengan para pemodal besar dari Jakarta. Karena itu, mentalnya sudah disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan datangnya bahaya. Untungnya, dalam perkembangannya, tidak ada ancaman langsung yang membahayakan keselamatan diri dan keluarganya.

Namun, tetap saja ancaman itu datang, meski dalam bentuk berbeda. ’’Antek-antek di bawahnya kan banyak. Saya dapat informasi dari sumber tepercaya bahwa HP saya disadap. Kalau saya beraktivitas terkait lingkungan, intel-intel atau polisi juga rajin mengawasi,’’ ujar ayah Keysha, 6; Ahdan, 3,5; dan Asyiila, 1 bulan, tersebut.

Cuaca akhir pekan pada minggu terakhir Agustus lalu begitu cerah di Pantai Tanjung Kelayang, Tanjung Pandan, Belitung. Perahu motor yang membawa

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News