Rabu, 13 Desember 2017 – 20:18 WIB

Teknologi Robot Tidaklah Mengambil Alih Pekerjaan Manusia

Selasa, 28 November 2017 – 12:00 WIB
Teknologi Robot Tidaklah Mengambil Alih Pekerjaan Manusia - JPNN.COM

Perkiraan bahwa teknologi baru akan menyebabkan hilangnya pekerjaan yang akan dilakukan manusia terus muncul dari masa ke masa.

Meski kenyataannya berbeda, namun banyak pihak melihat bahwa sekarang ini perubahan teknologi semakin cepat dan semakin dramatis dibandingkan masa sebelumnya.

Pendapat yang keliru mengatakan bahwa robot di satu saat nanti akan menganti apa yang dilakukan oleh manusia.

Namun kalau kita melihat kembali ke masa lalu, hal yang sudah diperkirakan sebelumnya tersebut sampai sekarang tidaklah terjadi.

Kecerdasan buatan
Kecerdasan buatan (artificial Intelegent) akan mengubah semua profesi dan pekerjaan, mulai dari dokter, pengacara hingga supir truk.

Sejarah berulang

Pada tahun 1930an, ekonom terkenal John Maynard Keynes mengatakan di satu saat nanti penemuan baru seperti listrik akan menghasilkan sebuah dunia di mana orang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kegiatan bersenang-senang.
Di Amerika Serikat pada tahun 1960an, Presiden Amerika Serikat ketika itu Lyndon Johnson membentuk Komisi Presiden untuk menyelidiki kekhawatiran bahwa otomasi secara permanen akan mengurangi jumlah pekerjaan yang ada.

Australia juga dipenuhi dengan kekhawatiran semacam dengan munculnya keprihatinan-keprihatinan serupa mengenai masa depan pekerjaan yang diungkapkan pada tahun 1970-an.

Dalam sejarah Universitas Monash, Graeme Davison dan Kate Murphy melaporkan bahwa:

Pada tahun 1978, sejarawan Ian Turner, mengadakan simposium mengenai implikasi teknologi baru tersebut. Dia memperkirakan, dunia akan memasuki periode yang sama pentingnya dengan Revolusi industri. Pada tahun 1988, setidaknya seperempat dari angkatan kerja Australia akan berkurang karena perubahan teknologi ...

Beberapa tahun kemudian, Barry Jones melanjutkan dalil suram ini dalam buku terlarisnya ‘Sleepers Wake!’:

Pada tahun 1980an, teknologi baru dapat mengurangi angkatan tenaga kerja di sektor penghasil barang-barang ekonomi ...

Tentu saja, tidak ada satupun dari dalil ini yang kemudian terjadi di Australia; sama halnya dengan pekerjaan yang tidak lenyap pada tahun 1930an di Inggris, atau pada tahun 1960an di Amerika Serikat.

Namun tetap saja hingga sekarang ini, kita masih tetap menyaksikan kebangkitan dari dalil ini.

Dengan hadirnya penjelasan terkait pasar tenaga kerja Australia yang dipenuhi dengan klaim-klaim bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan radikal dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Meningkatnya penerapan teknologi berbasis komputer di tempat kerja disarankan untuk menyebabkan pengurangan jumlah total pekerjaan yang ada atau menjadikan semakin lajunya tingkat kecepatan penggantian mesin bagi manusia-manusia daripada yang pernah disaksikan sebelumnya.

Tidak ada bukti kematian pekerjaan

Dalam penelitian baru-baru ini dengan Michael Coelli, kami berpendapat bahwa nubuat tersebut kemungkinan kecil tidak terjadi seperti di tahun 1970-an, seperti juga sekarang di tahun 2010-an.

Tidak ada bukti bahwa kematian pekerjaan saat ini sedang berlangsung. Sejak pertengahan 1960an, jam kerja keseluruhan yang dilakukan oleh penduduk Australia (secara per kapita) tetap stabil.
Secara khusus, tidak ada penurunan dalam jangka panjang terkait jumlah keseluruhan pekerjaan yang sesuai dengan munculnya penggunaan komputer secara progresif ke lingkungan kerja sejak awal 1980an.

robot dan pekerjaan manusia
Indeks jam bekerja karyawan dan populasi dari tahun ke tahun sejak diperkenalkannya komputer pada awal tahun 80an.

data Jeff Borland, University of Melbourne

Mengapa pekerjaan tidak kunjung lenyap?

Ada beberapa alasan bagus mengapa kita tidak mengharapkan teknologi baru akan memicu kematian kerja.

Teknologi baru selalu menyebabkan adanya pekerjaan yang hilang tapi itu hanya sebagian dari cerita.

Yang juga perlu dipahami adalah bagaimana teknologi baru itu justru meningkatkan jumlah pekerjaan yang ada.

Salah satu cara yang menyebabkan hal ini terjadi adalah melalui peningkatan pendapatan yang menyertai penerapan teknologi-teknologi baru.

Dengan diperkenalkannya teknologi ini, memang mungkin akan diperlukan waktu kerja yang lebih sedikit untuk menghasilkan apa yang dulu dikonsumsi, namun pendapatan riil yang lebih tinggi.

Dengan itu, muncul pula keinginan manusia untuk membelanjakan [uang mereka] sehingga menimbulkan permintaan ekstra (untuk produk yang ada dan juga untuk jenis baru dari barang dan jasa), dan begitu juga dengan para pekerja yang harus menyediakan barang dan jasa tambahan tersebut.

robotnyourjob4_abc-17011027.jpg
Proporsi pekerja dalam pekerjaan dengan durasi yang sangat lama telah meningkat selama tiga dekade terakhir dari tahun 1982 hingga 2016.

Jeff Borland, University of Melbourne

Selain itu, teknologi-teknologi baru cenderung menggantikan beberapa jenis tenaga kerja, namun untuk dapat saling melengkapi, dan karenanya justru meningkatkan permintaan untuk jenis pekerja lainnya.

Teknologi berbasis komputer tampaknya saling melengkapi para pekerja yang melakukan pekerjaan kognitif non-rutin.

Dalam sebuah laporan tentang angkatan kerja yang memungkinkan secara digital, Stefan Hajkowicz dan rekan penulis menyarankan sejumlah contoh untuk Australia.

Misalnya meningkatnya permintaan untuk tenaga fotografer terjadi secara bersamaan dengan menurunnya permintaan terhadap pengembang fotografi dan mesin cetak.

Peningkatan permintaan tenaga desainer grafis berhadapan dengan penurunan permintaan untuk printer dan pekerja cetak grafis.

Penurunan permintaan teller bank terjadi beriringan dengan kenaikan permintaan tenaga profesional di sektor keuangan.

Akhir dari pekerjaan tidak akan terjadi dalam waktu dekat di Australia sekarang ini begitu juga jika dibandingkan dengan waktu kapan pun di masa lalu. Jadi, mungkin ada kebutuhan untuk terus menyangkal dalil [kalau teknologi akan menggantikan pekerjaan manusia] serta untuk mengubah pola pikir kita.

Jeff Borland adalah seorang profesor ekonomi di University of Melbourne. Artikel ini awalnya diterbitkan di The Conversation

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

 
SHARES
Komentar