Terapkan Teknologi RAISA, Panen Padi di Banyuasin Meningkat

Terapkan Teknologi RAISA, Panen Padi di Banyuasin Meningkat
Wakil Bupati H. Slamet Seno Sentono, SH, didampingi Kepala BB Padi Dr. Priatna Sasmita melihat langsung peragaan tanaman padi Inpara dengan penerapan teknologi RAISA di Desa Sumber Jaya Banyuasin. Foto: Humas Kementan

Untuk mendukung keberlanjutan sumber daya lahan, paket teknologi RAISA dilengkapi dengan aplikasi pupuk hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa dan mampu meningkatkan produktivitas tanaman yaitu Biotara. Keunggulan dari pupuk hayati biotara adalah dapat mengikat N, meningkatkan ketersediaan hara P tanah, mendekomposisi sisa-sisa organik dan memacu pertumbuhan.

Selain itu pupuk hayati biotara juga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P sampai dengan 30% dan meningkatkan hasil padi sampai dengan 20% di lahan rawa. Aplikasi pembenah tanah atau amelioran juga dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga kondisi tanah menjadi lebih sesuai (favorable) bagi tanaman. Beberapa bahan amelioran, yang dapat digunakan antara lain bahan organik, pupuk organik, kompos, gypsum, fosfat alam, biochar dan kapur.

Dalam rangka pemulihan tanah yang sudah mengalami degradasi baik fisik, kimia maupun biologi, komponen paket teknologi RAISA juga menyertakan kegiatan remediasi. Proses ini dapat meningkatkan pH, retensi air dan hara, aktivitas biota tanah dan mengurangi keracunan dan pencemaran. Pada kegiatan kali ini digunakan remediasi hayati berupa pemanfaatan gulma yang banyak ditemukan di sekitar lahan yaitu purun tikus.

Pengendalian hama penyakit diarahkan pada strategi pengelolaan hama penyakit terpadu (PHT). 4. Pemanfaatan varietas unggul baru potensi hasil tinggi spesifik ekosistem varietas unggul merupakan salah satu komponen utama teknologi yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas. varietas unggul padi spesifik lahan pasang surut diantaranya Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpara 7, Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan.

Kabupaten Banyuasin sebagai penyumbang terbesar produksi padi di Sumatera Selatan tahun 2017 sebesar 26,41 persen produksi padi Sumatera Selatan berasal dari Banyuasin. Produksi padi di Kabupaten Banyuasin pada tahun 2017 sebesar 1.305.533 ton GKG, dari produksi tersebut Banyuasin telah mencapai surplus 733.352 ton.

Selain panen, di tempat yang sama juga dilaksanakan temu lapang sekaligus dialog dengan 250 petani yang hadir untuk menerima umpan balik dari penerapan teknologi yang telah dilaksanakan di wilayahnya. Pelaksanaan panen demfarm juga dihadiri oleh Wakil Bupati Banyuasin Slamet Seno Sentono, SH, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Priatna Sasmita, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan Ir. Amir Pohan, MSi, Kepala Dinas Pertanian Banyuasin, perwakilan BPS, peneliti, penyuluh dan petani dari beberapa poktan dan gapoktan Kecamatan Tungkal Ilir.

Pengelolaan lahan yang tepat melalui penerapan inovasi teknologi yang sesuai, diharapkan bisa mendongkrak produksi padi di Kabupaten Banyuasin dan umumnya Kabupaten-kabupaten lain yang memiliki lahan rawa pasang surut sehingga Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan nasional bisa terwujud. Upaya lain yang telah dilakukan BB Padi adalah menerapkan teknologi jarwo super untuk lahan sawah irigasi, largo super untuk lahan kering, kering masam, naungan terbuka dan dataran tinggi, serta Tepat sae Isabela untuk lahan tadah hujan. (jpnn)


BB Padi bekerja sama dengan BPTP Sumatera Selatan berhasil melaksanakan demfarm teknologi sistem produksi padi sawah pasang surut intensif (RAISA) di Banyuasin


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News