Thailand setelah Kudeta, Industri Mengeluh, Pariwisata Merosot

Thailand setelah Kudeta, Industri Mengeluh, Pariwisata Merosot
Thailand setelah Kudeta, Industri Mengeluh, Pariwisata Merosot

jpnn.com - Pada Kamis (22/5), militer Thailand resmi mengumumkan kudeta terhadap pemerintah. Imbasnya, kondisi politik di Thailand yang sudah karut-marut semakin tidak menentu. Pendapatan sejumlah perusahaan dan sektor pariwisata menurun. Dunia pun mengecam keputusan tersebut.

 * * *

SALAH satu perusahaan yang langsung terkena imbas kudeta militer Thailand adalah Honda Motor. Perusahaan berbasis di Jepang itu memiliki anak cabang di Thailand untuk produksi. Namun, sejak kerusuhan di Negeri Gajah Putih terus berlangsung, mereka terpaksa mengurangi produksinya hingga 60 persen. Honda, Toyota, dan beberapa perusahaan lainnya harus mematuhi aturan jam malam dari junta militer yang berkuasa. Pabrik-pabrik ikut ditutup saat malam.

Imbas serupa terjadi di sektor pariwisata. Jumlah wisatawan di Thailand terus merosot. Turunnya jumlah pengunjung tersebut dimulai sejak negeri itu terus-menerus dilanda demonstrasi masal beberapa bulan lalu. Jumlah wisatawan kian turun ketika militer berkuasa.

Meski begitu, masih ada saja wisatawan asing yang mendatangi Bangkok dan beberapa wilayah lainnya. Thailand selama ini memang dikenal sebagai lokasi belanja murah untuk barang-barang berkualitas. Para turis sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan banyaknya tentara di berbagai titik. Mereka hanya berkeberatan dengan jam malam yang diberlakukan. Semua warga Thailand, turis, dan para pekerja harus sudah berada di rumah atau hotel masing-masing pada pukul 22.00–05.00. Karena itulah, sejak pukul 21.00, kondisi jalanan sepi. Ketika malam, Thailand bagai kota hantu. Bar-bar hotel dipenuhi pengunjung. Sebab, mereka tidak bisa pergi ke mana-mana saat malam.

’’Kami pergi ke Khao San dan berpikir bahwa itu akan menjadi malam yang menyenangkan. Malam yang kami lalui sedikit singkat (karena jam malam), tapi suasananya masih bagus,’’ ujar Angela, 24, salah seorang turis dari Skotlandia. Sejak militer berkuasa, beberapa negara mulai meminta warganya waspada ketika mengunjungi Thailand. Namun, menurut ++Angela, suasana di Thailand hampir sama dengan biasanya. Hanya ada tambahan tentara di mana-mana. Sikap para tentara itu cukup ramah. Bahkan, jika ada turis yang ingin berfoto bersama, mereka melayani. ’’Kami tidak merasa terancam karena kami tahu kami bukan target mereka,’’ ujar Maayan Sher, mahasiswa asal Israel yang berkunjung ke Thailand.

Namun, para turis tetap saja mengeluhkan pengambilalihan kekuasaan oleh militer Thailand. Sebab, mereka tidak bisa menikmati waktu seperti biasanya karena banyak lokasi yang tutup. Berdasar data pemerintah Thailand, kedatangan turis pada kuartal pertama tahun ini turun 5 persen.

Sebagai contoh, jumlah kedatangan turis dari Tiongkok daratan turun 18 persen, Hongkong (turun 42 persen), dan Jepang (turun 20 persen). Perekonomian Thailand pada triwulan pertama juga turun 0,6 persen lantaran menurunnya jumlah wisatawan tersebut.

Pada Kamis (22/5), militer Thailand resmi mengumumkan kudeta terhadap pemerintah. Imbasnya, kondisi politik di Thailand yang sudah karut-marut semakin

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News