The Fed Naikkan Suku Bunga, Waspadai Pembalikan Modal

The Fed Naikkan Suku Bunga, Waspadai Pembalikan Modal
IHSG. Foto: JPNN

Meski dibayangi risiko pelemahan daya beli, secara umum bank sentral memprediksi capaian inflasi masih sesuai dengan target, yakni 4 persen plus minus 1 persen. Bahkan, di akhir tahun, BI memprediksi inflasi mengarah ke kisaran di bawah 3,5 persen dan sepanjang 2016 bisa di kisaran 3,2 persen.

Defisit transaksi berjalan juga masih terjaga. ’’Karena kita sekarang ini di kuartal II 2016, itu kan defisit transaksi berjalannya ada di kisaran 2 persen dari GDP. Di akhir tahun diperkirakan 2,2 persen dari GDP,’’ jelasnya.

Tak berhenti di situ, salah satu kekuatan yang diyakini masih aman adalah cadangan devisa.

’’Kita dalam kondisi cukup kuat. Kita juga mempunyai cadangan devisa USD 111 miliar. Jumlah itu di atas delapan bulan untuk memenuhi kewajiban impor dan pembayaran kewajiban kita,’’ ujarnya.

Senior Economist Kenta Institute Eric Alexander Sugandi mengungkapkan hal senada. ’’Saya expect suku bunga The Fed akan naik satu kali sebanyak 25 bps. Prediksinya di kuartal keempat tahun ini,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Dia juga memprediksi ada capital outflow yang akhirnya berkorelasi pada tekanan mata uang negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

’’Namun, tekanan ini tidak lama dan tidak sebesar kenaikan suku bunga bank sentral AS yang pertama. Karena para pelaku pasar finansial juga sudah expect bahwa suku bunga bank sentral AS akan naik lagi pada akhirnya,’’ katanya.

Eric memprediksi, pada akhir kuartal ketiga tahun ini, rupiah bergerak di level Rp 13.500 per USD. Sedangkan di akhir tahun akan tercatat kondisi yang lebih baik, yakni berada di kisaran Rp 13.300 per USD. (dee/c19/sof)


JAKARTA – Pasar keuangan dunia kembali dibayangi potensi kenaikan suku bunga The Fed. Indonesia pun mulai waspada terhadap pembalikan modal


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News