Tolak Kebangkitan Dinasti Cendana dari Orde Baru

Tolak Kebangkitan Dinasti Cendana dari Orde Baru
Aktivis 98 menolak hoaks dan kebangkitan orde baru. Foto: Ist

Menurut dia, hoaks jadi satu-satunya cara bagi kelompok tertentu untuk menegasikan capaian prestasi orang lain, demi mendapatkan kekuasaan.

Pola pecundang seperti itu, kata Ridwan, sering diarahkan kepada pemerintahan Joko Widodo untuk mendeskreditkan kepemimpinannya menjelang pemilu.

"Hoaks hanya dilakukan oleh pihak yang frustasi. Mereka kalah telak bersaing dalam program dan prestasi, lalu berusaha merusaknya dengan memainkan isu-isu yang menarik perhatian publik. Hal semacam ini jadi ancaman serius untuk proses demokrasi kita kedepan," tukasnya

Sementara itu, Ray Rangkuti menyoroti ancaman kebangkitan rezin Orde Baru. "Saya mengapresiasi kawan-kawan panitia yang mengingatkan kembali bahaya orde baru ke panggung politik. Karena kita tahu, Orde Baru selama 32 tahun berkuasa melakukan berbagai kejahatan politik," ujar Ray Rangkuti.

Oleh karenanya, dia beserta elemen demokrasi lainnya merasa berkewajiban mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang bahaya rezim Orde Baru. Dia melihat indikasi kebangkitan rezim Orde Baru tercermin melalui dua hal.

Pertama, secara fisik dengan membangun partai politik. Kedua, secara ide, seperti otoritarianisme, antipluralisme, maupun antikebebasan berpendapat yang pernah diterapkan pada masa lalu.

"Bukan artian kita menolak mereka berpolitik, kalau secara hak tentu saja mereka berhak. Tapi juga kita sebagai warga negara yang pernah ikut serta menjatuhkan Orde Baru mengingatkan kembali, bahwa masa kelam Orde Baru itu sangat tidak patut untuk kembali dibawa ke panggung politik Indonesia," pungkas Ray. (tan/jpnn)


Kumpulan aktivis 98 menolak kebangkitan rezim orde baru yang dulunya mengekang demokrasi.


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News