JPNN.com

Upaya Filipina Menghapus Trauma Anak-Anak Marawi

Senin, 21 Mei 2018 – 08:22 WIB Upaya Filipina Menghapus Trauma Anak-Anak Marawi - JPNN.com

jpnn.com, MARAWI - Perang di Marawi sudah setahun berlalu. Tapi, trauma psikologis masih begitu terasa. Utamanya, pada anak-anak. Pemerintah berupaya mengatasinya dengan mengajak anak-anak kembali ke bangku sekolah.

Wajah Norhussein Benito tampak serius. Bocah enam tahun itu sedang belajar membaca bersama puluhan rekannya. Mereka mengikuti kindergarten catch-up education program (KCEP). Semacam TK, tapi bukan TK biasa. Melainkan, program TK percepatan agar anak-anak siap masuk SD.

Benito yang bercita-cita menjadi ulama itu seharusnya masuk TK tahun lalu. Tapi, rencana yang sudah disusun keluarganya buyar hanya sebulan sebelum dimulainya tahun ajaran baru.

Pada 23 Mei 2017 kelompok militan Abu Sayyaf yang dibantu Maute menggempur kota tersebut. Penduduk melarikan diri ke kota-kota lain di sekitarnya. Termasuk keluarga Benito. Total 360 ribu orang kehilangan rumah dan tinggal di kamp pengungsian.

Gara-gara serbuan tersebut, proses belajar mengajar di 69 sekolah dihentikan. Pascaperang, 20 sekolah hancur total. Bangunannya tak bisa dipakai. Di antaranya, TK. Banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah.

Untuk itulah, kini pemerintah menggulirkan program KCEP. Anak-anak yang akan masuk jenjang SD diajari selama delapan pekan. Selain menjadi transisi dari TK menuju SD pada Juni, program itu dijalankan untuk menghapus trauma yang mereka alami.

”Ini adalah program pertama di wilayah otonomi Mindanao,” ujar Asisten Divisi Pengawas Sekolah Anna Zenaida Unte seperti dikutip Channel News Asia.

Menurut dia, 1.600 siswa menjalani program KCEP. Mereka belajar di tenda-tenda. Setiap kelas terdiri atas 30 hingga 35 anak. Beberapa terletak di Desa Sagonsong.

Sumber Jawa Pos

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...