Wamenag Zainut: Islam Seharusnya Menjadi Penawar Bagi Persoalan Global

Wamenag Zainut: Islam Seharusnya Menjadi Penawar Bagi Persoalan Global
Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi saat menutup Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-22 di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (4/5). Foto dok. Kemenag

jpnn.com, SURABAYA - Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menyampaikan bahwa agama harus dapat dihadirkan sebagai solusi atas beragam persoalan.

Agama tidak semestinya menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan rekontekstualisasi ajaran agama.

“Agama harus hadir menjadi problem solver, bukan bagian dari masalah itu sendiri. Itu harus dimulai dari konstruksi fikih yang ramah terhadap perbedaan dan perubahan,” tegas Wamenag Zainut saat menutup Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-22 di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (4/5). 

Ajang diskusi para pakar keagamaan, dalam dan luar negeri, yang berlangsung dari 2 – 4 Mei ini mengangkat tema Recontextualizing Fiqh for Equal Humanity and Sustainable Peace.

Para akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) juga hadir.

Tema AICIS 2023, kata Wamenag, sangat tepat untuk mencoba menggali ulang terhadap ajaran-ajaran Islam dalam menghadapi tantangan kehidupan dan kemoderanan.

Meski temanya terkait dengan fikih kemanusiaan dan perdamaian yang sudah lama diwacanakan para cendekiawan sebelumnya, tetapi forum ini lebih menekankan pada upaya untuk melihat ulang atas kesesuaian konteks seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang makin dahsyat.

"Islam hendaknya menjadi penawar bagi persoalan global yang hingga kini masih membutuhkan peran nyata dari agama itu sendiri," ujarnya. 

Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan Islam seharusnya menjadi penawar bagi persoalan global.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News