JPNN.com

Warga Sultra Tanggapi Penolakan 500 TKA China

Kamis, 04 Juni 2020 – 12:20 WIB
Warga Sultra Tanggapi Penolakan 500 TKA China - JPNN.com
Tenaga kerja asing asal Tiongkok. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, KONAWE - Masyarakat sekitar Kawasan Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) akhirnya angkat bicara menanggapi penolakan masuknya 500 TKA China di Konawe, yang kerap dilontarkan beberapa pihak.

Mereka tidak mempermasalahkan kedatangan TKA China tersebut dengan catatan pemerintah mengatur protokol kesehatan yang ketat untuk penanganan corona.

Mahadi, Kepala Desa Puruuy Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe menyayangkan pihak-pihak yang berkomentar tanpa mempertimbangkan ekonomi masyarakat setempat yang bergantung pada beroperasinya industri pengolahan nikel.

Menurut pria 52 tahun tersebut selama ini banyak masyarakat sekitar yang direkrut sebagai karyawan sehingga kehadiran industri tersebut membuka lapangan kerja kepada masyarakat yang sebelumnya bekerja tidak menentu.

Selain itu, Mahadi juga menuturkan hubungan antara masyarakat dan pekerja asing selama ini terjalin dengan baik.

“Namun sejak adanya pandemi ini, perusahaan memang membatasi kegiatan para tenaga kerja asing, tidak ada yang keluar,” tutur Mahadi.

Senada dengan Mahadi, beberapa putra daerah yang kini bekerja di kawasan VDNI seperti Jusman Usman (37 tahun) warga Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe yang sudah lima tahun bekerja di PT OSS, menyampaikan sejak awal bekerja di Kawasan Industri tersebut, kedatangan TKA selalu diikuti dengan terbukanya lapangan kerja untuk lebih banyak lagi pekerja lokal.

“Untuk TKA datang itu kan khusus pembangunan smelter, saya rasa tidak akan bisa mereka kerjakan sendiri tanpa karyawan lokal, jadi harus berdampingan. Mereka datangnya 500 orang otomatis karyawan yang nanti direkrut akan banyak karena dari segi konstruksi, smelter itu rumit pembangunannya. Jadi pasti memerlukan tenaga kerja lokal,” terang Jusman yang sebelumnya berprofesi sebagai petani.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
yessy