Warga Syria di Amerika Menangis, Sebut Trump Ingkar Janji

Warga Syria di Amerika Menangis, Sebut Trump Ingkar Janji
Pusat riset Syria hancur setelah dibombardir pesawat Amerika Serikat dan sekutunya, Sabtu (14/3). Foto: AP

jpnn.com, NEW JERSEY - Serangan gabungan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis membawa konflik Syria ke dalam babak baru. Keterlibatan tiga negara bersekutu itu diyakini akan membuat jumlah korban sipil melonjak

Ketakutan akan banyaknya korban yang bertumbangan setelah ini dirasakan benar oleh warga Syria yang tinggal di AS. Banyak keluarga mereka yang masih terjebak di Syria. Salah satunya Huda Shanawani yang tinggal di Millburn, New Jersey.

Dia menangis saat mendengar AS melontarkan misil ke negara asalnya itu. Shanawani langsung menghubungi keluarganya yang masih berada di Damaskus, baik via telepon maupun media sosial, tapi usahanya sia-sia. Dia merasa marah dan frustrasi.

”Saya tidak ingin melihat Damaskus berubah menjadi Baghdad,” ujar perempuan yang datang ke AS pada 1969 itu.

Ketua Syrian American Forum Ghias Moussa mengungkapkan hal senada. Dia ingin intervensi AS di Syria dihentikan.

Dia dulu memilih Trump sebagai presiden karena suami Melania itu menolak intervensi militer AS di Syria. Saat kampanye, Trump juga menggagas zona aman untuk para pengungsi.

”Kami tidak yakin bahwa membunuh lebih banyak orang tak berdosa di Syria dengan mengebom mereka akan memperbaiki apa yang sudah terjadi,” terangnya seperti dilansir USA Today. (sha/c10/dos)


Warga Syria di Amerika Serikat mengungkapkan pandangan mereka terhdap serangan yang dilancarkan Negeri Paman Sam, Inggris dan Prancis ke kampung halaman mereka


Redaktur & Reporter : Adil

Sumber Jawa Pos

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News