JPNN.com

Wasekjen MUI: Pendidikan Indonesia Tamat Jika Dipimpin Menteri Tanpa Pengalaman

Kamis, 09 Juli 2020 – 18:00 WIB
Wasekjen MUI: Pendidikan Indonesia Tamat Jika Dipimpin Menteri Tanpa Pengalaman - JPNN.com
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramli menganggap Mendikbud Nadiem Makarim belum mampu mewujudkan harapan Presiden Jokowi sebagai Mendikbud. Tangan dingin Nadiem saat mengelola Gojek yang mampu untung 10 kali lipat dari laba yang didapat Garuda Indonesia ternyata tidak jadi kenyataan saat memimpin Kemendikbud.

“Mungkin Pak Jokowi terhinoptis dengan keberhasilan Mendikbud pada saat mengelola Gojek dengan keuntungan yang dahsyat dan luar biasa. Tapi saat diangkat menjadi Mendikbud, sejak Oktober 2019 hingga detik ini, yang ada hanya slogan-slogan,” beber Najamuddin Ramli saat menjadi salah satu penanggap dalam webinar yang diadakan Pustakapedia, Selasa (7/7) malam.

Webinar bertema, “Arah Pendidikan Kita: Mas Nadiem Mau ke Mana?” menghadirkan Guru Besar UGM Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan), dan Muhammad Ramli Rahim (Ketua Ikatan Guru Indonesia – IGI). Adapun pemantik webinar adalah David Krisna Alka (Editor in Chief Pustakapedia), dan Andriansyah Syihabuddin sebagai moderator.

Najamuddin juga menyinggung hal paling menyakitkan yang dilakukan Kemendikbud saat berencana menghilangkan pendidikan agama Islam dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, seharusnya Mendikbud memahami UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, yang berakar pada kebudayaan nasional, dan tanggap terhadap perubahan zaman.

“Dari definisi pendidikan nasional ini seharusnya tidak boleh mengotak-atik pendidikan agama. Setelah direspons oleh masyarakat, tiba-tiba Kabalitbang mengatakan bahwa hal itu tidak pernah ada. Jadi, kebohongan-kebohongan publik seperti ini tidak boleh terjadi,” katanya.

Program Merdeka Belajar yang dicanangkan Nadiem turut dikritik Najamuddin. Ia berpendapat bahwa program ini sebenarsnya program lama, sudah dilakukan sekitar 30-40 tahun lalu. Merdeka belajar telah dikenalkan menteri-menteri pendidikan sebelumnya. Ia merupakan bagian dari sistem andragogi pendidikan orang dewasa sebagai lawan dari paedagogi pengajaran kepada anak kecil.

Karena itu, Najamuddin mempertanyakan alasan yang masuk akal jika Nadiem masih akan dipertahankan sebagai Mendikbud.

“Patut dipertanyakan, apakah masih layak dipertahankan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud dengan tidak ada prestasi, malahan menurunkan kualitas pendidikan saat ini. Pendidikan kita sudah bagus pada masa Menteri Bambang Sudibyo, dilanjutkan oleh Muhammad Nuh, Anies Baswedan, Muhajir Effendy, yang telah menemukan titik terang,” katanya lagi.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
adil