WHO Minta Beberapa Negara Tertentu Tidak Membeli Booster Vaksin COVID-19, Kok Begitu?

WHO Minta Beberapa Negara Tertentu Tidak Membeli Booster Vaksin COVID-19, Kok Begitu?
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan distribusi vaksin lewat COVAX bagi negara miskin dan menengah harus jadi prioritas sekarang ini. (Reuters: Laurent Gillieron/File photo)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan negara-negara seharusnya tidak membeli vaksin penguat atau 'booster' bagi warga yang sudah divaksinasi, sementara banyak negara lain yang bahkan belum memberikan vaksin dosis pertama untuk warganya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesu mengatakan tingkat kematian meningkat, varian Delta menjadi varian dominan yang memakan korban jiwa, dan banyak negara belum memiliki persediaan vaksin yang cukup untuk melindungi tenaga kesehatan.

"Varian Delta menjalar ke seluruh dunia, seperti bara api, yang menyebabkan peningkatan kasus dan kematian," kata Dr Tedros.

Dia mengatakan varian Delta, yang pertama kali ditemukan di India, sekarang sudah ditemukan di 104 negara.

"Kesenjangan global akan pasokan vaksin COVID-19 sangat timpang dan tidak adil," katanya.

"Beberapa negara dan kawasan malah sudah mulai membeli jutaan dosis vaksin penguat atau 'booster', sementara negara lain tidak memiliki pasokan untuk melakukan vaksinasi terhadap pekerja kesehatan dan mereka yang lemah."

Dr Tedros secara tegas menyebut dua perusahaan pembuat vaksin, yaitu Pfizer dan Moderna sebagai perusahaan yang berusaha menyediakan vaksin 'booster' ke negara-negara yang sudah memiliki tingkat vaksinasi tinggi.

Ia juga mengatakan dua perusahaan tersebut juga seharusnya memberikan vaksin kepada program COVAX, yakni program vaksin yang dijalankan oleh WHO yang dikhususkan bagi negara-negara miskin dan menengah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan prioritas saat ini harusnya memvaksinasi seluruh penduduk ketimbang memesan vaksin 'booster' yang belum cukup bukti diperlukan saat ini

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News