'Yang Kelihatan Beda, Ada Makanan atau Tidak, Itu aja'

'Yang Kelihatan Beda, Ada Makanan atau Tidak, Itu aja'
Sriwijaya Air. Foto: destinasian

jpnn.com - MANAGER Humas Sriwijaya Air, Agus Sudjono  juga menilai struktur biaya antara maskapai full service dengan yang bertarif murah (Low Cost Carrier/LCC) tidak berbeda jauh.

Yang membuat LCC bisa menjual tiket dengan harga murah karena tidak memberikan layanan yang maksimum seperti maskapai full service.

"Biaya bahan bakar, tarif terminal, landing and take off charges semua sama, yang kelihatan beda ada makanan atau tidak itu aja," tukasnya.
       
Menurut dia, tarif promo itu memang hanya strategi marketing untuk menarik perhatian masyarakat. Seperti halnya Departemen Store yang menawarkan diskon harga pakaian hingga 70 persen.

"Yang di diskon 70 persen itu hanya sebagian, tidak semua item. Yang lain masih pakai harga normal, bahkan mungkin lebih mahal. Kalau pesawat dijual harga diskon semua ya bangkrut maskapainya," kata dia.
       
Lantas bagaimana caranya maskapai bisa tetap untuk dengan tiket promo. Agus menerangkan bahwa dalam suatu pesawat dibagi menjadi 10, 12 atau 14 bagian (subclasses).

Maskapai kemudian membaginya dengan bermacam tarif mulai yang paling rendah hingga yang paling tinggi."Jumlah subclasses tergantung maskapai masing-masing. Itu masuk dalam revenue management system," ungkapnya.
       
Dalam suatu penerbangan selalu ditentukan revenue yang harus didapat. Angka itu kemudian dibagi menjadi berbagai macam harga.

"Kalau misalkan dalam suatu rute tarif batas atasnya Rp 1 juta, dengan aturan sekarang maka tarif paling rendahnya Rp 400.000. Nah, subclasses paling rendah itu nanti naik dari 400.000, kemudian Rp 450.000, lalu Rp 500.000, Rp 750.000 hingga Rp 1 juta," terangnya.
       
Total dari penjualan kursi itu tetap harus bisa menutupi target pendapatan dalam satu pesawat. Dengan begitu, harga setiap kursi terus berubah seiring dengan hukum pasar yaitu permintaan dan penawaran.

"Dulu ada tiket yang bisa dijual sangat murah untuk subclasses terendah, tapi konsekuensinya subclasses di atasnya harus dijual dengan harga yang mahal," jelasnya. (wir)

Perbedaan Struktur Biaya Maskapai

MANAGER Humas Sriwijaya Air, Agus Sudjono  juga menilai struktur biaya antara maskapai full service dengan yang bertarif murah (Low Cost Carrier/LCC)

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News