Zhang Qing Feng, Memori antara Indonesia dan Tiongkok

Selalu Gembira saat Bertemu Orang Indonesia

Zhang Qing Feng, Memori antara Indonesia dan Tiongkok
LAHIR DI LAMPUNG: Zhang Qing Feng kini menetap di sebuah flat di Jalan Xi Heng Lu, Distrik Tianhe, Guangzhou, Tiongkok. Dia meninggalkan Indonesia pada 1960. Foto : Anda Marzudinta/Jawa Pos
Ayah Zhang adalah pedagang. Ketika memutuskan hijrah, mereka terpaksa meninggalkan rumah dan usaha yang ada. "Kami selama seminggu berada di kapal. Dari Lampung menuju Tanjung Karang. Sampai di Jakarta menginap satu malam. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Tiongkok," kenang Zhang.

Kapal akhirnya berlabuh di Zhang Jian, dekat Hainan. Mereka tinggal di penampungan selama enam bulan. Zhang menggambarkan, tempat penampungan itu berupa bangunan permanen yang dilengkapi beberapa fasilitas. Ada dapur umum dan toilet. Namun, sampai di sana mereka bukan lantas bersantai. Mereka harus bekerja.

Para pemuda dan orang dewasa bekerja di perkebunan karet. Aturannya, setiap orang yang berumur 16 tahun harus bekerja. Sedangkan anak-anak tetap bersekolah. Selama di penampungan mereka mendapat jatah makan dan minum yang cukup. "Pemerintah ada sokong kami yang berumur kurang dari 16 tahun. Masing-masing dapat beras dan minyak," ujarnya.

Setelah enam bulan di penampungan, mereka disebar ke seluruh daratan Tiongkok. "Pemerintah tetap memberikan sokongan berupa rumah tinggal, beras, dan minyak. Jadi, kami tetap tenang," katanya. Meski demikian, ayah Zhang, Thio Tek Po, rupanya tak tahan menghadapi keadaan di tempat yang sama sekali baru. Begitu pula sang ibu, Go Len Nio. Apalagi, keduanya tak bisa berbahasa Mandarin.

Sentimen politik memaksa Zhang Qing Feng meninggalkan Indonesia pada 1960. Saat itu dia baru berusia delapan tahun. Setelah puluhan tahun tinggal

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News