Kamis, 02 Oktober 2014 | 05:24:02
Home / Politik / Pilkada / Belum Ada Kandidat yang Jadi Media Darling

Senin, 06 Agustus 2012 , 04:42:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Potensi tingginya angka golongan putih (golput) di pilgub Sumut 2013 mendatang cukup besar. Penyebabnya, lantaran hingga saat ini belum ada sosok luar biasa, yang bisa menyedot antusiasme warga Sumut untuk sudi menggunakan hak pilihnya.

Pengamat politik Umar Syadat Hasibuan mengatakan, trend yang terjadi saat ini, masyarakat membutuhkan figur yang dinilai bisa melakukan perubahan. Lagi-lagi, doktor ilmu politik lulusan Universitas Indonesia (UI) itu memberi contoh kasus pilgub DKI Jakarta.

Warga banyak yang memilih Joko Widodo, lantaran dengan memilih pria ceking yang biasa dipanggil Jokowi itu, ada harapan Jakarta dalam lima tahun ke depan bakal mengalami perubahan. "Dengan memilih Jokowi, ada hope, ada harapan Jakarta bisa lebih baik. Kalau memilih Foke (Fauzi Bowo, red), Jakarta dalam lima tahun ke depan ya begini-begini saja," ujar Umar, pria asal Sumut itu, kepada JPNN kemarin (5/8).

Masyarakat Jakarta juga sudah mengetahui track record Jokowi. Sebagai walikota Solo, Jokowi banyak melakukan gebrakan. Bukan hanya soal penataan pedagang kaki lima, mobil SMK, pembenahan birokrasi, tapi juga sosoknya yang dinilai merakyat, telah mendongkrak popularitasnya.

Umar menilai, Jokowi juga telah menjadi cagub yang diidolakan media massa. "Apa pun yang dilakukan, diangkat sebagai pemberitaan di media massa. Media juga yang mengangkat Jokowi menjadi sosok yang luar biasa. Jokowi menjadi media darling. Nah, di Sumut, sampai sekarang belum ada sosok yang menjadi media darling. Semua masih biasa-biasa saja. Belum muncul sosok yang seperti Jokowi," ujar Umar, yang juga staf pengajar di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu.

Dia yakin, yang dibutuhkan warga Sumut saat ini adalah sosok yang mampu melakukan perubahan. "Karena Sumut dibawah Plt Gubernur Gatot, begini-begini saja. Yang dibutuhkan warga, harus ada calon lain, yang track recordnya jelas, yang sosoknya sederhana. Dulu Pak Syamsul Arifin menang kan karena sosoknya yang sederhana. Tapi sekarang yang dibutuhkan, sosok sederhana, juga track recordnya bagus," bebernya.

"Tak mungkin Sutan (Sutan Bathoegana, red) lah. Nggak mungkin dia bisa seperti Jokowi," imbuhnya.

Jika ternyata hingga pendaftaran calon nantinya tak ada sosok seperti Jokowi di pilgub Sumut, apa yang bakal terjadi? Umar mengatakan, jika itu yang terjadi, angka golput bakal tinggi.

Lantas, kalau tak ada sosok kuat yang bisa menyedot perhatian warga, maka nantinya faktor etnisitas akan sangat berpengaruh. Nah, bicara etnisitas, Umar menilai, ikatan yang paling kuat adalah Batak kawasan Tapanuli Utara.

"Dari sana ada RE Nainggolan dan Cornel Simbolon. Nah, siapa yang dinilai sebagai sosok Batak yang kharismatik, dia yang akan punya pengaruh," terang Umar.

Mengenai etnis Jawa, Umar menilai, ikatan emosionalnya tidak lah kuat. Jadi, tidak lantas warga etnis Jawa akan memilih kandidat berdarah Jawa. "Di DKI misalnya, Jokowi bisa menang di putaran pertama, bukan karena di Jakarta orang Jawa paling banyak. Ya karena Jokowi dianggap sebagai simbol perubahan itu," pungkasnya. (sam/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar