Tiket Pesawat dan Kereta Api Bersiap Naik

Tiket Pesawat dan Kereta Api Bersiap Naik
Para penumpang sedang berebut masuk ke dalam kereta api. FOTO: Thomas Kukuh/JPNN

JAKARTA--Dampak pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) segera terakumulasi kepada ongkos perjalanan dengan menggunakan transportasi umum. Maskapai penerbangan sudah meminta pemerintah menaikkan harga tiket begitu juga PT Kereta Api Indonesia (KAI) ancang-ancang memberlakukan harga baru mulai Januari 2014.
    
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Tengku Burhanudin, sebagai asosiasi maskapai penerbangan di Indonesia mengatakan segala komponen kenaikan biaya operasional dari bisnis maskapai akibat pelemahan Rupiah sudah disampaikan ke Kementerian Perhubungan terutama Dirjen Perhubungan Udara.

"Kita menunggu respon secepatnya karena tidak ingin hal yang tidak kita inginkan menimpa para maskapai. Semoga saja secepatnya," harapnya kepada Jawa Pos, tadi malam.

Pada prinsipnya, kata Tengku, maskapai minta regulator melakukan penyesuaian tarif agar segala beban akibat kondisi makro ekonomi sekarang ini tidak ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan penerbangan. "Ada banyak sekali komponen yang dibayar oleh maskapai menggunakan USD. Sewa pesawat, asuransi, sparepart, perawatan. Selain itu juga avtur yang diimpor itu kan tetap menggunakan USD walaupun kita bayarnya pakai Rupiah. Tapi tetap saja saat dikurs kan itu kena juga," tuturnya.

INACA menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah tentang mekanisme apa yang akan diberlakukan untuk penyesuaian tarif itu. Apakah melalui kenaikan harga secara menyeluruh atau diberlakukan cost adjustment surcharge terlebih dahulu. "Yang pasti semua rincian kenaikan harga akibat pelemahan Rupiah itu sudah kita sampaikan," tegasnya.

Ketua Umum INACA, Arif Wibowo, mengatakan pihaknya sudah mendapat respon dari regulator meskipun baru sebatas non formal atas usulan penyesuaian tarif itu. "Kami belum dapat respon formalnya dari pemerintah. Tetapi secara informal pada prinsipnya disetujui walaupun belum tahu berapa kenaikannya," ujarnya.

Dari pelemahan rupiah saja, kata Arif, dampaknya memang sudah cukup signifikan terhadap bisnis airlines karena pelemahannya hampir mencapai 30 persen. Itu diukur dari nilai kurs Rp 9.500 sampai Rp 10 ribu per USD pada awal tahun ini saat semua maskapai nasional menentukan asumsi bisnis.

Penguatan USD terhadap rupiah yang terjadi saat ini memang tidak bisa diprediksi sehingga tidak ada langkah antisipasi. Sementara untuk menaikkan harga tiket pesawat secara inisiatif dari masing-masing maskapai tidak bisa dilakukan begitu saja sebab terbentur aturan batas atas. "Untuk mengurangi kerugian caranya memang menaikkan harga jual. Tapi tidak bisa kita lakukan begitu saja karena ada batas atas yang sudah ditentukan," terusnya.

Dari pelemahan rupiah yang diasumsikan sebesar 30 persen itu, kata Arif, secara tidak langsung membuat ongkos produksi maskapai naik hampir 30 persen juga. Terutama airlines domestic yang memang masih meraup pendapatan dalam denominasi Rupiah. Sebaliknya, hampir 70 persen komponen belanja untuk bisnis ini menggunakan USD. "Seperti bahan bakar misalnya, memang bisa saja beli menggunakan rupiah. Tapi saat impornya kan menggunakan USD jadi kita belinya juga sudah kena kenaikan harga akibat kenaikan ongkos impor itu," terangnya.

JAKARTA--Dampak pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) segera terakumulasi kepada ongkos perjalanan dengan menggunakan transportasi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News