Sabtu, 30 Agustus 2014 | 19:30:06
Home / Internasional / Afrika / Kisah Anggota Brigade Khusus Wanita Pasukan Kadhafi

Sabtu, 03 September 2011 , 04:34:00

BERITA TERKAIT

TRIPOLI - Nisreen Mansour al Forgani adalah gadis jelita berusia 19 tahun. Namun, di balik kejelitaannya, Nisreen adalah satu dari seribu milisi wanita yang direkrut Muammar Kadafi. Saat Kadhafi berkuasa, Nisreen adalah salah satu pasukan loyal berdarah dingin.

Pekan lalu, dia telah menembak mati 11 tahanan oposisi Libya. Kini, Nisreen hanya bisa terkulai lemah dalam kawalan ketat para pemberontak Libya dan menunggu nasib setelah junjungannya kalah. Daily Mail melansir, Nisreen saat ini tengah dirawat di sebuah rumah sakit Tripoli akibat luka serius setelah para pemberontak merangsek ibukota Libya tersebut. Kepada Daily Mail, Nisreen mengaku eksekusi kepada para tahanan adalah perintah atasannya.

"Saya mengeksekusi tahanan pertama dan kemudian tahanan lainnya dibawa ke dalam ruangan. Tahanan berikutnya terlihat kaget saat melihat mayat temannya dan saya langsung menembak dia dalam jaak satu meter," tutur Nisreen.

Pemilik bola mata berwarna cokelat ini mengaku dirinya melakukan eksekusi karena berada dalam tekanan kuat para atasannya. Dia juga mengaku mengalami kekerasan seksual oleh atasannya. Sang atasan adalah komandan brigade elit di Tripoli pengawal Kadhafi. "Kepada para pemberontak, saya menceritakan semua yang saya lakukan. Mereka sangat marah. Sekarang, saya tak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya," kata Nisreen.

Bagaimana Nisreen bisa bergabung dengan milisi kejam Kadafi? Dia mengaku sebenarnya berasal dari keluarga anti-Kadhafi. Nasibnya berubah setelah orang tuanya bercerai dan dia tinggal bersama ibunya. Saat itulah jalan nasib Nisreen berubah. Salah satu teman ibunya adalah Fatma al Dreby. Dia adalah pemimpin cabang milisi wanita pengawal Kadafi Tahun lalu, Nisreen meinggalkan kuliahnya untuk merawat ibunya yang terkena kanker.

Pada saat bersamaan, Fatma tengah mencari kader baru sebagai anggota pasukan wanita pengawal Kadafi. Nisreen kemudian direkrut. Keluarga Nisreen awalnya menolak dan protes keras atas langkah Fatma. Namun, protes tersebut tak dihiraukan. Maklum, Nisreen masuk dalam kategori calon anggota pasukan yang menempatkan kecantikan sebagai salah satu syarat utamanya. "Saya sempat bertemu kawan kuliah bernama Faten saat menjalani latihan milisi," katanya.

Sebagai anggota pengawal pemimpin Libya, Nisreen mendapatkan pelatihan militer dan ketrampilan tempur lainnya. Dia secara khusus dilatih untuk menjadi penembak jitu dalam pasukan wanita pengawal Kadafi. Saat Libya mulai memanas oleh pemberontakan Februari lalu, Nisreen bersama Faten dikurung pada sebuah pos penjagaan bergerak di dekat bandara Tripoli.

Tugas utama mereka adalah memeriksa dan melakukan patrol. Unit mereka berpusat di markas Brigade 77 yang berada di depan tempat tinggal Kadafi di Bab Al-Azizya. Selama berada di Bab Al-Azizya, Nisreen mengaku hanya sekali melihat Kadafi secara langsung saat iring-iringan diktaktor Libya tersebut melintas melalui pos penjagaannya. Menurut Nisreen, Fatma yang merekrutnya adalah sosok loyalis Kadafi sejati.

"Dia sempat bilang kepada saya jika ibunya mengatakan sesuatu keburukan Kadafi, dia tak akan segan membunuhnya langsung. Jika saya yang mengatakan keburukan Kadhafi, dia langsung mengurung saya. Dia juga mengatakan kepada kami jika pemberontak datang, mereka akan memperkosa kami semua," ujar Nisreen.

Sialnya, justru bukan pemberontak yang memperkosa Nisreen dan teman- temannya. "Fatma mempunyai ruangan di markas Brigade 77 lengkap dengan tempat tidurnya. Suatu malam, saya disuruh masuk ke dalam kamar itu dan kemudian Mansour Dau, komandan Brigade 77, datang dan mengunci pintu sebelum memperkosa saya," tuturnya.

Nisreen bukan satu-satunya anggota Brigade 77 yang mengalami kekerasan seksual. Menurutnya, Fatma secara bergilir mengirim anggotanya ke dalam kamarnya untuk digauli oleh Mansour Dau. Celakanya, bukan hanya Mansour saja yang menggauli Nisreen.

Dia kemudian juga ditiduri oleh anak Mansour bernama Ibrahim dan seorang komandan perang Kadafi lainnya bernama Noury Saad. Tindak perkosaan semakin sering terjadi seiring memanasnya suhu politik Libya oleh pemberontakan. Setelah aksi protes yang berujung pemberontakan makin menjadi dan penangkapan mulai dilakukan, Nisreen kemudian mendapat tugas baru yaitu membunuh para tahanan.

"Saya berusaha untuk tidak membunuh mereka. Saya memalingkan wajah saat menembak. Namun, saya menyadari salah satu dari para tentara yang ada di tempat kejadian akan segera menembak saya jika saya tak menembak para tahanan," katanya sembari terisak.

Nisreen mengaku tak pernah melakukan kekerasan apalagi membunuh sebelum situasi politik Libya memburuk. "Saya tak pernah menyakiti siapa pun. Saya dulu menjalani kehidupan dengan normal-normal saja," katanya.

Saat para pemberontak mulai menguasai Tripoli, Nisreen memutuskan untuk meloncat dari lantai dua kamarnya yang menjadi lokasinya mengeksekusi para tahanan. Akibat tindakan nekatnya, Nisreen kini harus dirawat di rumah sakit dalam pengawasan ketat para pemberontak.

Dia mengalami cidera akibat jatuh dan tertabrak oleh sebuah truk saat meloloskan diri dari ruangannya sendiri. Beruntung, dalam kondisi cidera dia ditemukan oleh seorang pemberontak yang kemudian membawanya ke sebuah masjid sebelum dibawa ke rumah sakit. (tir)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 07.01.2013,
        08:08
        muhammad ridho
        klu ingin brbuat sesuatu kita hrus berpkir dahulu From mobile