Rabu, 03 September 2014 | 11:41:30
Home / Berita Daerah / Papua / Tujuh Jembatan Dibakar

Jumat, 02 Desember 2011 , 06:15:00

BERITA TERKAIT

JAYAPURA - Momentum 1 Desember yang disebut-sebut sebagai hari kemerdekaan bangsa Papua Barat diwarnai dengan sejumlah kejadian yang menegangkan. Mulai dari penyerangan polisi di Kampung Berap, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, pengibaran bendera Bintang Kejora di Perumnas III Waena Kota Jayapura, penembakan terhadap polisi di Puncak Jaya, pembakaran kantor distrik dan tujuh jembatan di Kabupaten Paniai serta beberapa peristiwa lainnya.

Penyerangan terhadap polisi di Kampung Berap, Distrik Nimboran itu menimpa dua anggota Polres Jayapura, masing-masing bernama Bripka Dian Budi Santosa dan Bripda Ridwan Napitapulu. Keduanya diserang kelompok orang tak dikenal (OTK) saat melakukan kegiatan patroli di Kampung Berap, Kamis (1/12) dini hari sekira pukul 02.00 WIT.

Akibat penyerangan ini, Bripda Ridwan mengalami luka cukup serius di bagian wajah, bagian rahang bergeser, luka panah di bagian dada dan paha kanan. Sedangkan, Bripka Budi dilaporkan hanya mengalami luka ringan.

Mengingat kondisi luka yang dialami Bripda Ridwan cukup parah, korban yang sebelumnya sempat dirawat di Puskesmas Genyem, Distrik Nimboran, pagi kemarin langsung dievakuasi ke RSUD Yowari Doyo Sentani, Kabupaten Jayapura.

Hanya beberapa menit setelah tiba di RSUD Yowari, korban lantas langsung dirujuk ke RS Bhayangkara Polda Papua di Kotaraja, Kota Jayapura untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Sesuai data yang dihimpun Cenderawasih Pos (Grup JPNN), kejadian itu bermula ketika Bripda Ridwan Napitupulu anggota Polsek Nimbokrang dan Bripka Dian Budi Santoso Kanit Intelkam Polsek Nimbokrang mendapat informasi bahwa ada upacara dan pengibaran bendera Bintang Kejora di Kampung Berap.

Mendengar informasi itu, keduanya kemudian melakukan pengecekan ke lokasi dengan menggunakan sepeda motor. Namun setibanya di sana, keduanya dihadang kurang lebih 15 orang dengan menodongkan panah. Tidak hanya itu, dari belakang keduanya juga ada yang menghadang.

Saat itu juga, kedua anggota Polisi itu berupaya meloloskan diri dari hadangan. Keduanya mencoba menyelamatkan diri ke Kali Biru yang ada di sekitar lokasi, namun terbawa arus. Di saat yang bersamaan gerombolan OTK itu mengeluarkan tembakan, dan tidak berapa lama kemudian, Bripda Ridwan berhasil diringkus gerombolan tersebut, sedangkan Bripka Budi berhasil lolos dan kembali ke markas Polsek Nimbokrang.

Selanjutnya bersama anggota lain, Bripka Budi menuju lokasi untuk menyelamatkan Bripda Ridwan. Saat ditemukan, Ridwan sudah dalam kondisi luka parah, akibat pukulan dan terkena panah di paha kanan. Begitu berhasil menemukan Bripda Ridwan, anggota langsung melarikannya ke Puskesmas Nimboran dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit.

Sedangkan Senjata SS1 yang ditenteng Bripda Ridwan juga berhasil diamankan anggota lain. Saat itu juga empat warga yang diduga sebagai pelaku langsung diamankan.
Dari pantauan Cenderawasih Pos sekitar pukul 10.11 WIT,  Bripda Ridwan Napitupulu  tiba di RS Bhayangkara, Kotaraja, Kota Jayapura dengan menggunakan mobil ambulance DS 5027 JK. Wartawan pun dilarang masuk untuk mengambil gambar.

Saat Cenderawasih Pos masuk dan hanya berdiri di depan UGD, langsung diusir keluar oleh anggota. "Wartawan di luar saja, jauh di luar sana. Jangan di sini, jangan ada wartawan yang  masuk," kata seorang anggota polisi dengan nada keras. 

Pada pukul 10.38 WIT, Kapolda Papua Irjen  Pol. B.L Tobing tiba di RS Bhayanghkara, namun ajudannya juga melarang wartawan mengambil gambar. Setelah melihat korban, pada pukul 11.00 WIT Kapolda Papua meninggalkan RS Bhayangkara, namun kembali lagi pada pukul 11.30 WIT.

Siangnya sekitar pukul 14.30 WIT, Kapolda sempat datang ke Polres, tapi langsung kembali ke Jayapura mengingat Kapolres Jayapura AKBP Antonius Wantri Yulianto, SIK sedang tidak berada di tempat atau masih dalam perjalanan dari lokasi penyerangan di Nimboran menuju Sentani.

Mengetahui Kapolda berada di Polres, sejumlah wartawan berusaha masuk ke Polres untuk meminta keterangan berkaitan dengan kejadian tersebut. Sayangnya, saat akan masuk ke Polres, wartawan dilarang masuk Polres oleh anggota penjagaan atas perintah Kapolda.

Begitupun, ketika Kapolres tiba bersama beberapa warga yang diduga sebagai pelaku penyerangan dua anggota polisi, wartawan yang kembali  berusaha ingin masuk ke Polres untuk mengambil gambar,  juga dilarang oleh anggota, dengan alasan Kapolda tidak mengizinkan wartawan untuk masuk Polres.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono ketika dikonfirmasi wartawan menjelaskan, akibat penyerangan oleh OTK itu, wajah Bripda Ridwan hancur dan dadanya terkena goresan panah, serta paha bagian otot tertancap sebuah anak panah.

"Kini Ridwan telah dirawat ke rumah sakit Bhayangkara untuk mendapatkan pertolongan medis. Dan kini Ridwan telah berada di ruang rawat inap Cenderawasih 10, sebab bagian paha korban telah dioperasi," terangnya

Sedangkan Budi yang berhasil melarikan diri, sempat mendengar satu kali letusan senjata api dari tempat Ridwan dianiaya. Hingga akhirnya Budi lalu melaporkan kejadian tersebut dan aparat menuju ke TKP dan berhasil menangkap 7 orang dari kelompok tersebut sementara yang lainnya melarikan diri ke hutan.

"Kini ketujuh orang tersebut dalam pemeriksaan di Polres Jayapura di Sentani, yaitu Ruben Manggo, Yohanis Yoku, Yonathan Tarko, Yusuf Manggo, Calvin Tarko, Thomas Tarko dan Eli Yowel," ungkap Kabid Humas. Kabid Humas menjelaskan, kondisi Ridwan telah membaik. Ia telah mendapatkan dua kantung darah dan telah dioperasi di bagian pahanya.

"Luka yang diderita Ridwan adalah luka parah di bagian wajah, bagian rahang bergeser, yang rencanya tiga hari lagi baru dioperasi. Kemudian mendapat luka panah di bagian dada dan paha yang mengenai otot paha," katanya. "Ridwan sudah telah sadar diri, hanya saja belum bisa berbicara," kata Keluarga Ridwan Pendeta AF Napitupulu yang merupakan Paman Ridwan.

Sementara itu, terkait 1 Desember ini, sekitar pukul 08.00 WIT di Perumnas III Waena Kota Jayapura sebuah spanduk besar berukuran 3 x 5 meter  bertuliskan We Want Freedom terpampang di putaran taksi Perumnas III yang dipasang oleh massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB).  Pada pagi kemarin, situasi di Abepura dan sekitarnya relatif lebih sepi dari hari biasanya. Anak-anak sekolah banyak yang tidak masuk, termasuk sejumlah toko juga memilih tutup. Namun siang harinya, aktifitas sudah normal seperti biasa.

Hanya saja, di bukit depan kantor kelurahan Yabansai Perumnas III Waena Distrik Heram, sekitar pukul 15.30 WIT berkibar dua bendera Bintang Kejora, berukuran 50 cm X 100 cm dan 40 X 80 cm. Kapolres Jayapura Kota AKBP Alfred Papare,SIK ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa di wilayah hukumnya aman terkendali dan tidak ada gangguan kambtimas dari pelaku-pelaku kriminal.

"Secara umum aman, hanya saja ketika sore hari kami kecolongan. Sebab bendera Bintang Kejora berkibar di daerah Perumnas III Distrik Heram. Dan kami juga telah menurunkannya," terangnya Kamis (1/12).

"Yang jelas kami tetap meningkatkan kewaspadaan terkait adanya pengibaran bendera tersebut. Kami tidak ingin hal ini terulang kembali. Sedangkan siapa pelakunya, hingga saat ini masih dalam penyelidikan," sambungnya.

Sementara di Kabupaten Puncak Jaya, tepatnya di Kampung Wadenggobak Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (1/12) sekitar pukul 07.40 WIT telah terjadi kontak senjata antara TPN/OPM dengan anggota Brimob Mabes Polri, hingga mengakibatkan Bripda Iwan Fransiska luka rekoset pada tangan kanan dan tangan kiri. Di lokasi itu, bendera Bintang Kejora juga berkibar.

Sesuai data yang diperoleh Cenderawasih Pos dari sumber terpercaya menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba. Kelompok TPN/OPM itu melakukan penembakan hingga akhirnya anggota Brimob Mabes Polri yang disiagakan di Puncak Jaqya melakukan tembakan balasan. Hingga akhirnya salah satu anggota terkena tembakan di bagian lengan.

Usai melakukan tembakan, bendera Bintang Kejora berkibar di gunung yang tinggi di daerah Puncak Jaya. Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono mengatakan, pihaknya belum mendapat kabar adanya satu anggotanya yang tertembak akibat kontak senjata dengan OTK. Hanya saja satu bendera Bintang Kejora berkibar di Puncak Jaya.

Sementara sehari sebelumnya, Rabu (30/11) pukul 17.45 WIT, Kantor Distrik Bibida yang terletak sekitar dua kilometer  dari Maddi,  lokasi pusat pemerintahan Kabupaten Paniai, Papua  dibakar oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan John Yogi.

Koordinator Jaringan Damai Papua Pater Neles Tebay kepada wartawan menyebutkan, selain kantor distrik, ada tujuh jembatan di sekitar kantor distrik tersebut yang dirusak dan juga dibakar.

"Ada dugaan kelompok ini marah karena belum lama ini aparat Brimob dari Kelapa Dua Depok, Jawa Barat yang ditugaskan di wilayah tersebut melakukan penyisiran ke beberapa kampung. Dalam penyisiran itu Brimob menyita sejumlah alat-alat perkebunan dan juga senjata tradisional mereka, antara lain parang, busur dan juga tombak," jelasnya di Jayapura, kemarin.

Dirinya juga menduga kelompok separatis ini juga marah karena ada Brimob di sana, sebab beberapa hari ini pasukan Brimob mendirikan tenda-tenda darurat untuk penjagaan di sekitar kantor distrik

"Situasi terakhir yang saya terima dari masyarakat di sana bahwa masing-masing kelompok ini saling siaga. Brimob siaga, anggota OPM juga siaga. Mereka masih menunggu siapa yang akan mulai terlebih dahulu," ujarnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Pol Wachyono kepada wartawan, Kamis (1/12) menjelaskan bahwa bertempat di kampung Dagauto Distrik Pantim telah terjadi kontak senjata di antara kelompok TPN/OPM dengan Dev II Makodam Pemka IV Eduda Tumpas Matoa 2011 Wilayah Paniai yang dipimpin oleh Ipda Jenni dengan kekuatan 25 orang.

Dimana kronologis kejadian sekitar pukul 17.00 WIT ketika diadakan penambahan 10 angota operasi tumpas matoa di Pos Lintas, dari bukit cemara melakukan tembakan secara rentetan ke arah pos lintas, yang akhirnya anggota melakukan tembakan balasan ke arah kelompok TPN/OPM sehingga terjadi kontak senjata selama 50 menit. "Adanya kontak senjata itu, kami belum mengetahui apakah ada korban jiwa dari TPN/OPM" namun dari kami pihak kepolisian tidak ada," ungkapnya.

Sebelum terjadi kontak senjata, sekitar pukul 15.00 Wit kelompok TPN/OPM dengan senpi laras panjang mendatangi distrik Bibida. Lalu kelompok tersebut membakar kantor distrik Bibida dan juga 7 unit jembatan di wilayah Bibida yang selama ini menjadi pos lintas para anggota.

"Namun kini situasi sudah aman dan terkendali, anggota akan terus melakukan pengamanan dan juga meningkatkan kewaspadaan dari kelompok ini. Dan kami juga akan terus mengejar pelakunya," tegasnya.

Sementara itu Dandim 1705 Letkol Inf Nabire Tatang Subarna dalam pesan singkatnya menyebutkan pasca pembakaran kantor distrik itu, sekitar pukul 18.00 WIT hingga saat ini sedang terjadi kontak senjata antara kelompok separatis dengan aparat keamanan di sekitar Kampung Daroto. (mud/ado/ro/fud)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 02.12.2011,
        07:39
        raja kota
        sikat semua kegiatan yang bersifat makar.jangan raguuuuu raguuuu