Rabu, 16 April 2014 | 20:07:21
Home / Lifestyle / Lolos dari Kanker Kelenjar Ludah

Minggu, 18 Desember 2011 , 12:37:00

RELATED NEWS

AKIBAT penyakit kanker yang menyerangnya 23 tahun silam, Rawinas Saleh tak lagi mempunyai kelenjar ludah. Mulutnya selalu kering. Kanker menyerangnya tatkala teknologi kedokteran tak secanggih seperti saat ini. Perempuan yang kini berusia 59 tahun ini menuturkan pengalamannya melawan kanker kelenjar ludah.


Sebelum dinyatakan terkena kanker, Rawinas sering merasa sakit kepala tanpa sebab. Ada yang menduga dia hanya stres menjalani pekerjaannya di Askes Center RSUD AW Sjahranie. Namun sakit kepala ini tak juga berkurang. Bahkan suatu kali pernah setelah senam, Rawinas merasakan sakit pada bagian lehernya.

“Sesekali leher saya seperti ditusuk. Saat diraba ada benjolan seukuran kacang ijo,” ujar Rawinas, Jumat (16/12) lalu.

Warga Jalan Pramuka Blok F No 12 Samarinda ini kemudian memeriksakan keganjilan ini pada dokter dan dokter memintanya melakukan operasi pengambilan sampel di RSUD AW Sjahranie. Kala itu, tahun 1988, hasil sampel harus dikirim ke Instalasi Patalogi Anatomi RSU dr Soetomo Surabaya. "Waktu itu, RSUD AWS belum mempunyai  dokter spesial PA. Jadi hasil PA dikirim ke Surabaya. Sekitar dua minggu baru ada hasilnya," ujarnya didampingi sang suami Hamsi Djamhari.
 
Dari hasil PA diketahui Rawinas menderita kanker kelenjar ludah. Ibu dua anak ini langsung syok. Airmatanya mengalir. "Waktu itu penyakit kanker sangat jarang di Indonesia. Orang beranggapan, yang terkena kanker sudah pasti mati. Pokoknya kata orang tak ada harapan hidup. Pikiran saya saat itu kalut. Tak menyangka kok bisa kena kanker kelenjar ludah. Saya terus menangis," ujar ibu dari Henny Riska dan Benny Rahadian ini.
 
Oleh dokter, Rawinas disarankan berobat ke Jakarta atau ke Surabaya. Perempuan kelahiran Padang, 2 Mei 1952 ini memilih Jakarta karena keluarganya lebih banyak di ibukota negara. Bersama suami, dia berangkat ke Jakarta pada akhir Agustus 1988. “Kami ke Jakarta naik pesawat terbang dari Sepinggan Balikpapan. Waktu itu orang naik pesawat jarang. Hanya pejabat tinggi yang sering menggunakan pesawat. Penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta waktu itu juga cuma 2 kali,” tambah Hamsi.
 
Hamsi mengaku, kala itu banyak dibantu rekan-rekannya di Kanwil Departemen Kesehatan Kaltim (saat ini Dinas Kesehatan). Tiket pesawat terbang katanya, dibeli dari urunan uang rekan-rekannya. Bahkan pimpinannya memberikan sangu selama di Jakarta. “Rekan-rekan di kantor saat itu juga ikut prihatin. Mereka membayangkan penyakit kanker sangat sulit disembuhkan dan akan membutuhkan biaya yang besar,” tutur Hamsi, yang selama pengobatan terus menemani Rawinas.

Rawinas menjalani perawatan di RSU Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Waktu itu katanya, para dokter RSCM sempat bingung menghadapi kasus kanker kelenjar ludah karena masih sangat jarang. “Waktu itu di Indonesia, ada 3 penderita kanker kelenjar ludah. Tiga lainnya sudah ditangani. Yang terakhir saya. Dokter belum berpengalaman menangani kasus kanker seperti ini, karena itu RSCM kemudian membuat tim. Kasus saya sekaligus jadi pembelajaran,” jelasnya.

Rawinas menjalani operasi pada 5 September 1988. Dokter membedah dari bagian bawah telinga kanan hingga di bawah dagu sebelah kiri. Panjangnya sekitar 15 meter. Benjolan-benjolan kecil pada bagian kelenjar ludah dibuang. Pembedahan yang berlangsung 6 jam ini membuat sebagian wajah Rawinas rusak dan tak akan sulit untuk normal kembali. Namun demikian, bagi anak keenam dari delapan bersaudara ini yang terpenting nyawanya bisa diselamatkan.

“Selama beberapa bulan saya kesulitan makan. Saya juga tak bisa bicara dengan lancar akibat pembedahan dan kelenjar ludah saya yang sudah tak ada lagi,” ujarnya.
 
Setelah pembedahan, Rawinas melanjutkan pengobatan radioterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa. Radioterapi dilakukan 25 kali. Mulai Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu libur. Radioterapi ini ternyata sama menyakitkannya seperti saat operasi. Bagian leher dan dada Rawinas yang terpapar radiasi langsung berubah kehitaman. “Semakin lama kena radiasi semakin hitam. Akhirnya, kulit saya persis seperti lele bakar. Daerah yang terpapar radiasi ini tak boleh kena air selama 3 bulan,” ujarnya.

Tak hanya itu. Radiasi memang tak membuat rambutnya rontok, tetapi gigi Rawinas menjadi keropos. “Gigi keropos ini tak boleh dicabut. Jadi sepanjang hari selama bertahun-tahun saya hanya bisa menahan rasa sakit pada gigi. Setelah 8 tahun, baru bisa dicabut,” ujar perempuan yang sekarang tak lagi mempunyai gigi ini. Selain itu, nafsu makannya juga menurun. Berat badan Rawinas sebelumnya 54 kilogram, namun sejak terkena kanker sampai menjalani pengobatan turun drastis tinggal 36 kilogram.

Penderitaan lainnya, Rawinas tak lagi mempunyai ludah, karena kelenjar ludah yang diserang kanker sudah dibuang. Mulutnya selalu terasa kering. “Bisa dibayangkan ketika orang menjalankan puasa sepanjang hari. Mulutnya akan terasa kering. Tapi yang saya alami lebih parah dari itu, karena saya tak bisa lagi memproduksi ludah. Jadi mulut saya terus-terusan kering, hingga sekarang (sudah 23 tahun, Red.). Karena itu saya harus banyak minum air putih,” jelasnya lagi.

Tapi semua penderitaan itu bisa ditutupi oleh orang-orang di sekitar Rawinas. Menurutnya, orang-orang terdekat sangat berperan memberi motivasi. Terutama suaminya, Hamsi. “Semangat untuk sembuh itu datang dari diri sendiri. Tapi semangat itu tak akan bisa tumbuh bila tak disupport oleh keluarga. Saya bersyukur keluarga banyak memberikan motivasi selama saya menjalani pengobatan. Teman-teman di tempat kerja juga memberi support. Selama pengobatan saya juga banyak berdoa,” ujar nenek 2 cucu ini.
 
Rawinas menjalani perawatan selama 4 bulan di RSCM. Setelah agak membaik, dia menetap di rumah saudaranya di Jakarta sambil melakukan rawat jalan di RSCM.  Beberapa bulan kemudian dia sudah melewati masa rawan dan diperbolehkan pulang ke Samarinda. “Selama satu tahun saya cuti tak bekerja,” ujarnya. Suaminya juga cuti selama beberapa bulan. “Waktu itu kantor memaklumi masalah yang tengah dihadapi. Setelah saya pulang ke Samarinda, suami kembali bekerja,” ujarnya.
 
Rawinas melewati masa kritisnya selama 10 tahun. Saat ini, kanker di tubuhnya sudah dipastikan tak berbahaya lagi. Saat ini dia hanya merasakan efek-efek samping dari pembedahan dan radioterapi, seperti kulit di sekitar lehernya yang mengeras dan giginya yang sudah habis. “Sekarang teknologi pengobatan sudah berkembang pesat. Dokter-dokter juga sudah berpengalaman menangani kanker. Mungkin efek samping yang saya alami tak lagi terjadi. Paling tidak rasa sakitnya tidak seperti dulu kala teknologi tak secanggih sekarang,” ujarnya. (mukhransyah/kaltimpost)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 11.03.2012,
        13:52
        Faisal eveendi
        Aku pngen tau ap sih obatnya penyakit kelenjar ludah....... From mobile