Minggu, 26 Oktober 2014 | 08:51:51
Home / Features / Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sappa, Dua Polisi yang Gugur di Poso

Jumat, 19 Oktober 2012 , 00:09:00

Jenazah polisi Polres Poso, Brigadir Sudirman yang tewas dibunuh, Rabu (17/10).

Foto: Radar Sulteng/ Agung Sumandjaya
Jenazah polisi Polres Poso, Brigadir Sudirman yang tewas dibunuh, Rabu (17/10). Foto: Radar Sulteng/ Agung Sumandjaya
BERITA TERKAIT

Misteri hilangnya Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sappa terkuak sudah. Dua anggota polisi di jajaran Polres Poso, Sulawesi Tengah, itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Polri pun menaikkan pangkat dua pengayom masyarakat itu.

BUDIYANTO WIHARTO, Poso

JENAZAH Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sappa kemarin (17/10) dimakamkan di kampung halaman masing-masing. Sebelumnya, almarhum Sudirman diterbangkan via Bandara Mutiara Palu ke Dusun Cepang, Desa Tambakela, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan; sedangkan jasad Andi Sappa dipulangkan via jalur darat menuju Kota Palopo, Sulsel.

Pelepasan dua jenazah dilakukan dalam sebuah upacara militer yang dipimpin Kapolda Sulteng Brigjen (Pol) Dewa Parsana. Hadir dalam pelepasan di Mapolres Poso itu, antara lain, Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT Brigjen (Pol) Rudi Sufahriadi, Dandim 1307 Letkol Bobby Prabowo, serta rekan-rekan kedua almarhum.

Tampak pula istri Sudirman, Ny Siti Rabiah; dan istri Andi Sappa, Ny Indriani Hafizd. Suasana haru mewarnai pelepasan dan pemakaman kedua prajurit yang gugur dalam tugas tersebut.

Dalam upacara itu Kapolda Dewa Parsana mengungkapkan, berkat jasa-jasa yang ditunjukkan hingga akhir hayatnya, dua bintara itu berhak mendapatkan kenaikan pangkat istimewa. Brigadir Sudirman naik menjadi brigadir kepala (Bripka), sedangkan Briptu Andi Sappa naik menjadi brigadir.

Kepada wartawan, Kapolda mengatakan bahwa dua anggotanya itu telah dibunuh dengan cara sadis. Leher mereka nyaris putus.

"Hasil otopsi menunjukkan bahwa luka-luka di tubuh dua anggota kami merupakan perlakuan yang sangat sadis. Itu di luar batas kemanusiaan," jelasnya.

Jenderal polisi bintang satu ini juga memastikan tidak ada luka tembak di tubuh polisi tersebut. "Kami belum bisa memastikan siapa yang melakukan perbuatan sadis itu. Kami masih memburu pelakunya," tegas Dewa Parsana.

Seperti diberitakan, Sudirman dan Abdi Sappa sempat dilaporkan hilang dalam sepekan terakhir. Kabar mereka tak diketahui lagi sejak menghadiri acara aqiqoh (gunting rambut) di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Senin (8/10).

Menurut Wakapolres Poso Kompol Eko Yudi, Senin lalu Brigadir Sudirman dan Briptu Andi meminta izin kepada Kapolsek Poso Pesisir Iptu Sudaryanto untuk menghadiri acara aqiqoh di rumah Kepala Dusun Tamanjeka Muhammad Sambara. "Sejak itulah mereka putus komunikasi dengan keluarga dan rekan kerja," katanya.

"Menurut Pak Kepala Dusun dan warga Tamanjeka, dua anggota saya itu pamit pulang petang hari itu juga," lanjut Wakapolres.

Dusun Tamanjeka berjarak sekitar delapan kilometer dari desa induk Masani ke arah perbukitan Gunung Masani-Tokorondo atau sekitar 30 kilometer arah barat Kota Poso. Jarak Dusun Ueralulu dan Dusun Tamanjeka sekitar tiga kilometer, sedangkan Dusun Ueralulu dan Desa Tokorondo enam kilometer.

Setelah dicari secara intensif dengan melibatkan unsur Polri dan TNI, dua polisi nahas itu ditemukan tidak bernyawa pada Selasa (16/10) sekitar pukul 11.30 Wita. Pasukan TNI 714/Sintuwu Maroso Poso menemukan jasad korban dikubur dalam satu lubang berukuran sekitar 1,7 m x 60 cm di pinggir hutan pegunungan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Kondisi korban sangat memprihatinkan dengan leher nyaris putus.

"Dua korban ditumpuk dalam satu lubang dengan posisi kepala berlawanan. Jasad Andi tengkurap di bawah jasad Sudirman," komentar seorang anggota TNI yang ikut dalam proses evakuasi.

Lokasi penguburan mereka sekitar 7 km dari jalan poros Masani atau sekitar 1 km sebelum pusat perkampungan Dusun Tamanjeka.

Sementara itu, kepada Radar Sulteng (JPNN Group), istri almarhum Andi Sappa, Ny Indriani Hafizd, mengaku tak mempunyai firasat buruk sebelum suaminya meninggal. "Hanya saya sering mimpi buruk sejak suami saya tidak pulang-pulang dan kemudian dinyatakan hilang," tuturnya. Air mata pun terus berlinang.

Indriani juga tak melihat gelagat aneh pada diri suaminya sebelum kejadian. "Suami saya hanya pamit mau keluar. Tapi, itu memang kebiasaannya bila mau tugas," ujarnya.

Istri almarhum Sudirman, Ny Siti Rabiah, juga tidak merasa ada tanda-tanda akan kehilangan suami tercinta. "Sangat kejam orang yang membunuh suami saya. Mudah-mudahan mereka kena azab dari Allah," doa dia. (*/c2/ari)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 29.09.2013,
        20:00
        check out seo
        g1Xy0o Very informative article.Much thanks again. Much obliged. From mobile
      2. 08.09.2013,
        13:59
        seo service
        spuU6Z Really appreciate you sharing this blog.Really thank you! Much obliged. From mobile
      3. 25.10.2012,
        16:02
        ai frazhegy sianakbungsudarilimabersaudara
        saya dan keluarga turut berduka cita untuk pejuang kita... semoga amal ibadahnya di terima di sisi ALLAH SWT...amin.
      4. 25.10.2012,
        08:00
        Ali Imron
        Ini hanya suatu bentuk yg bermotif balasdendam saja,karena polisi juga tidak memberi ampun pd teroris.jd siapa yg dulu cabut pistol dulu dia yg menang.makanya hati2 pak polisi jgn jalan sendirian. From mobile
      5. 21.10.2012,
        15:13
        gangnam
        Sebenarnya ada apa di poso..mulai perang sara, teroris, pembunuhan polisi..pasti ada seseorang tokoh yg menggerakan itu semua..hayo ngaku..hayo.. From mobile
      6. 20.10.2012,
        09:58
        nasibul umam
        sekali lagi kita harus kehilangan putra terbaik bangsa,bagi keluarga dan bangsa tidak ad yg bisa gantikan mereka..bagi pembunuh 'puaskah anda ! apakah anda punya anak dan bapak?bgmn jika keluarga anda dibunuh dgn cara demikian?'.jika anda manusia serahkan diri anda pada polisi,jgn .enipu hati nurani anda! From mobile