Minggu, 26 Oktober 2014 | 14:00:39
Home / Features / Kakang-Kakang lan Mbakyu-Mbakyu Sedoyo, Piye Kabare

Minggu, 05 Mei 2013 , 13:05:00

Foto: JP
Foto: JP
BERITA TERKAIT

BERAGAM cara dilakukan politikus untuk meraih dukungan pemilih. Tak terkecuali para calon anggota dewan di Malaysia yang hari ini (5/5) bertarung dalam pemilihan raya. Wartawan Jawa Pos DIAN WAHYUDI sempat mengikuti kampanye salah seorang calon anggota legislatif yang tergolong unik di Kuala Lumpur.

 
”HADIRIN dan hadirat, muslimin dan muslimat, ibu-ibu dan bapak-bapak, kakang-kakang lan mbakyu-mbakyu sedoyo, salam sejahtera. Piye kabare?” teriak seorang calon anggota parlemen dalam kampanyenya di Kuala Lumpur.

”Alhamdulillah, kita iso ketemu nang kene, iso ngobrol, iso bicara soal politik tanah air. Iki pilihan raya wes arep tekan, kulo njaluk ibu bapak supoyo ngewangi, ojok lali pilih Pakatan Rakyat, pilih bulan, pilih roket, neng kito supoyo iso ubah kerajaan sing korup iki,” sambungnya, lalu disambut tepuk tangan para kader partai Pakatan Rakyat.

Potongan pidato tersebut terasa sangat akrab bagi orang Indonesia, khususnya orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sapaan seperti itu sering terdengar saat masa-masa kampanye pemilihan umum di Indonesia. Namun, jangan kaget bila pidato berbahasa Jawa campur Indonesia tersebut ternyata disampaikan calon anggota parlemen Malaysia keturunan Tionghoa, Ng Suee Lim.
 
Meski logat Tionghoa-nya tetap terasa, bahasa Jawa yang disampaikan politikus kelahiran Selangor, 13 Juli 1970, itu cukup lancar. Tidak terputus-putus seperti orang yang memang baru mengenal atau belajar bahasa Jawa.
 
Bahasa yang jamak dipakai orang Jawa itu seperti menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Sejak berumur 13 tahun, Suee Lim akrab dengan seorang anak pasangan suami istri warga Malaysia keturunan Jawa yang tinggal di Kampung Tok Muda, Kapar Selatan, Selangor. Bahkan, saat itu Suee Lim  ikut bekerja di warung makan milik suami istri tersebut. Dalam sehari-hari, pasangan itu masih sering menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Dengan demikian, lama-lama Suee Lim jadi bisa berbahasa Jawa.

”Dia (mantan juragan Suee Lim, Red) keturunan kedua atau ketiga lah kalau tidak salah dari orang Indonesia,” kisah Suee Lim saat ditemui Jawa Pos di sekretariat tim suksesnya di Sekinchan, Selangor, Malaysia, Sabtu (4/5).
       
Sebagai anak yang dibesarkan dengan bahasa sehari-hari Tionghoa dan Melayu, Suee Lim kecil awalnya tentu tidak tahu sama sekali isi pembicaraan yang sering digunakan keluarga keturunan Jawa itu. ”Saya juga tidak paham saat dicaci maki, dibilang goblok lah, ndasmu lah,” kenangnya, lantas tersenyum.

Dari interaksi dengan keluarga Jawa itu sekitar delapan tahun, lama-lama Suee Lim mengerti, bahkan bisa membahasakannya.

”Ini jalan hidup, tak disangka, hal itu kemudian sangat berguna ketika saya putuskan untuk terjun ke politik,” ucapnya.

Strategi menggunakan bahasa Jawa dalam kampanye Suee Lim dilakukan bukan pada pemilu kali ini saja. Dia menggunakannya sejak kali pertama terpilih sebagai anggota parlemen lokal (setingkat DPRD di Indonesia) pada 2004. Strategi yang sama akhirnya mengantarkan dia kembali terpilih untuk kali kedua pada Pemilihan Raya 2008.

Daerah pemilihan Suee Lim di Sekinchan, Selangor, memang khusus. Selain mayoritas warga Tionghoa (sekitar 60 persen), sebagian warga Melayu keturunan Indonesia dari Jawa dan sebagian lagi dari Banjar. Dengan komposisi tersebut, hampir tidak mungkin bagi Lim tidak mencari simpati dari warga Melayu keturunan Jawa yang lumayan banyak. ”Waktu pertama pakai bahasa Jawa spontan saja. Pikiran saya, saya hanya ingin sedekat mungkin dengan mereka,” bebernya.

Sukses Lim yang berasal dari Democratic Action Party/DAP (Partai Aksi Demokrasi) itu akhirnya terdengar rekan-rekannya dari partai lain yang masih sekoalisi. DAP merupakan salah satu anggota koalisi partai oposisi yang terhimpun di Pakatan Rakyat.

Rekan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) yang maju di daerah pemilihan lain kerap mengordernya untuk membantu kampanye mereka. Khususnya di kantong-kantong pemilih yang memiliki banyak warga Melayu keturunan Jawa.

Pernah suatu ketika, kisah Lim, ada seorang tua berumur sekitar 70 tahun yang turut mendengarkan dirinya berpidato. Ketika acara sudah selesai, orang tua tersebut tidak beranjak dari tempatnya. Dia terus memandang Lim sambil terheran-heran.

”Sampean ini benar orang Tionghoa, kan? Sampean bukan orang Jawa, kan? Kok bisa ngomong Jawa sih? Nggak ngerti saya,” kata Lim menirukan kalimat yang disampaikan orang tua tersebut. (*/c10/c9/ari)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar