JPNN.com

27 Steps of May: Kisah Pedih Korban Pemerkosaan

Jumat, 03 Mei 2019 – 22:56 WIB 27 Steps of May: Kisah Pedih Korban Pemerkosaan - JPNN.com

jpnn.com - Setelah tayang di beberapa festival internasional, 27 Steps of May karya Ravi Bharwani kini bisa disaksikan secara luas di layar bioskop komersial. Film yang dirilis pada 27 April itu mengangkat isu korban kekerasan seksual dan membawa pesan berharga.

Awal film yang naskahnya ditulis Rayya Makarim itu berlangsung manis. May (Raihaanun) remaja tampak gembira bermain di sebuah pasar malam.
Tanpa disadari, malam itu menjadi malam yang memilukan bagi dirinya. Saat perjalanan pulang seorang diri, May disekap dan diperkosa sekumpulan lelaki tak dikenal. Dalam keadaan traumatis, May berjalan pulang ke rumah.

Trauma yang dialami May berlangsung selama bertahun-tahun. Dia menjadi pribadi antisosial, tak mau berbicara dengan siapa pun. Sementara itu, ayah May (Lukman Sardi) didera perasaan bersalah karena tak sanggup melindungi putrinya. Untuk mencari nafkah dan melampiaskan rasa bersalahnya, ayah May menjadi petinju. Hari-hari mereka lebih banyak diisi keheningan.

Hingga kemudian, ada seorang pesulap (Ario Bayu) yang pindah ke rumah sebelah. Kehadirannya membangkitkan rasa ingin tahu May dan menjadi trigger baginya untuk melangkah.

Film yang tayang di Busan International Film Festival, meraih Golden Hanoman Award Jogja-Netpac Asia Film Festival, serta masuk seleksi resmi Cape Town International Film Market and Festival itu punya jalan cerita yang cukup mudah diikuti. Dengan rapi, Rayya memaparkan bagaimana sebuah tragedi berdampak besar terhadap kejiwaan seseorang. Bukan hanya korban, keluarga korban pun digambarkan mengalami depresi berat.

Rayya mengungkapkan bahwa ide cerita berasal dari tragedi Mei 1998 yang juga melibatkan kasus pemerkosaan. Namun, pada akhirnya, Rayya dan timnya tidak mau membuat film bermuatan politis. Sebab, dia cemas penonton akan sulit mencerna. ''Akhirnya, kami pilih ke lingkup personal dan keluarga,'' kata Rayya.

Keputusan itu terbilang tepat. Dengan melibatkan tokoh yang sedikit, jalan cerita lebih terfokus. Selama cerita bergulir, Rayya memaparkan bagaimana May dan ayahnya bangkit dari keterpurukan tragedi pemerkosaan. Mulai fase pengenalan konflik, klimaks, hingga penyelesaian.

Yang semakin menarik, sejumlah adegan benar-benar tak menyertakan dialog. hanya ekspresi, gerakan, dan blocking pemain. Misalnya, saat adegan May dan ayahnya menjalani hari-hari dengan membuat baju boneka. Atau, ketika May mulai membuka diri kepada sang pesulap di tengah traumanya.

Sumber Jawa Pos

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...