Ada Bahaya di Gunung Anak Krakatau, Bagaimana Kondisi Masyarakat Sekitar

Ada Bahaya di Gunung Anak Krakatau, Bagaimana Kondisi Masyarakat Sekitar
Erupsi Anak Gunung Krakatau di Perairan Selat Sunda dengan ketinggian 2.000 meter, begini kondisi kehidupan masyarakat pesisir Pantai Padeglang, Banten. Foto: Bid Humas Polda Banten

jpnn.com, ANYER - Erupsi Anak Gunung Krakatau di Perairan Selat Sunda dengan ketinggian 2.000 meter tidak menggangu kondisi kehidupan masyarakat pesisir Pantai Padeglang, Banten.

"Kami seperti biasa berjualan ikan di TPI Teluk Labuan dan terpengaruh adanya letusan Gunung Anak Krakatau, " kata Edi, seorang warga Labuan Kabupaten Pandeglang, Senin.

Menurutnya, saat ini kondisi Perairan Labuan normal dan tidak terjadi gelombang tinggi.

"Kegiatan masyarakat relatif normal untuk melakukan aktivitas ekonomi, seperti berjualan dan masih melaut.

Selain itu, masyarakat pesisir Pandeglang mulai pantai Carita, Labuan, Panimbang, hingga Sumur tidak panik.

Sebab, sudah terbiasa mengalami erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kami sendiri dari pagi berjualan tetap tenang dan lumayan omzet penjualan, "kata Edi.

Begitu juga Nasirudin, seorang penunggu vila di Pantai Carita mengaku dirinya hingga saat ini tetap membuka kegiatan usaha penginapan dan tidak terpengaruh adanya letusan Anak Krakatau.

"Kami mendengar sejak sepekan Anak Krakatau erupsi, namun seperti biasa saja, " katanya menjelaskan.

Kepala Bidang Humas (Kabidhumas ) Polda Banten Kombes Shinto Silitonga dalam keterangannya, mengatakan pihaknya berdasarkan pengumuman dari pemerintah melalui surat dari Badan Geologi Kementerian ESDM tanggal 24 April 2022.

Di dalam surat bernomor 184.Lap/GL.05/BGL/2022 yang ditandatangani oleh Kapala Badan Geologi, Eko Budi Lelono disebutkan peningkatan tingkat aktivitas Gunung Anak Kraktau dari Level II-Waspada menjadi Level III-Siaga.

"Benar, kami telah menerima surat dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan telah mempelajari isi dalam surat tersebut untuk ditindaklanjuti oleh Polda Banten," katanya menjelaskan.

Badan Geologi telah mengidentifikasi Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan hampir seluruh tubuh Anak Gunung Krakatau yang berdiameter sekitar dua kilometer itu menjadi kawasan yang rawan bencana.

"Potensi bahaya berupa lontaran material pijar dalam radius 2 km dari pusat erupsi, kemungkinan lontaran akan menjangkau jarak yang lebih jauh dan sebaran abu vulkanik juga bergerak sesuai arah dan kecepatan angin ke kawasan yang lebih jauh," ujar Shinto.

Kepala Pos Pemantauan Anak Gunung Krakatau di Pasauran Kabupaten Serang, Deni Mardiono mengatakan letusan Anak Krakatau mencapai 2.000 meter dan mengeluarkan abu vulkanik hingga Sumur, Panimbang dan Labuan karena terbawa angin. (antara/jpnn)

Erupsi Anak Gunung Krakatau di Perairan Selat Sunda dengan ketinggian 2.000 meter, begini kondisi kehidupan masyarakat pesisir Pantai Padeglang, Banten.


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News