Air Embung Bidadari Mengandung Bakteri Berbahaya, Kok Malah Dianggap Mujarab

Air Embung Bidadari Mengandung Bakteri Berbahaya, Kok Malah Dianggap Mujarab
Sejumlah warga sedang berendam di Embung Bidadari. Foto: Edy Suryansyah/JPNN.com.

jpnn.com - Embung Bidadari di Desa Saba, Janapria, Lombok Tengah (Lomteng), NTB, belakangan ini viral dan kebanjiran pengunjung.

Banyak warga yang meyakini tempat penampungan air hujan itu memiliki khasiat, terutama untuk menyembuhkan penyakit.

Keyakinan soal air mujarab itu membuat Embung Bidadari didatangi banyak warga yang mencari obat untuk berbagai penyakit.

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Lomteng punya temuan penting soal air di Embung Bidadari.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinkes Lombok Tengah Lalu Putrawangsa menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan air di Embung Bidadari tidak layak minum.

Menurut dia, warna air embung tersebut juga tidak memenuhi standar. "Warnanya keruh, berbau amis dan ada lumpur," katanya.

Selain itu, hasil uji organoleptik di laboratorium juga mengungkap derajat keasaman (pH) air Embung Bidadari yang tidak layak minum.

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum mensyaratkan air yang layak dikonsumsi memiliki pH 6,5-8,5.

Lalu Putrawangsa menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan air di Embung Bidadari tidak layak minum.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News