Analisis Intelijen soal Corona, Antara Virus untuk Senjata Biologi & Menyalahkan Pasar Hewan

AS Desak Tiongkok Terbuka soal Pengujian Kelelawar di WIV

Analisis Intelijen soal Corona, Antara Virus untuk Senjata Biologi & Menyalahkan Pasar Hewan
Petugas medis memeriksa pasien 2019-nCoV di Rumah Sakit Universitas Wuhan Zhongnan, Provinsi Hubei, Tiongkok, Selasa (28/1/2020). Foto: ANTARA/HO-ChinaDaily/mii

jpnn.com - Para pejabat intelijen Inggris dan Amerika Serikat (AS) menduga Tiongkok tak terbuka soal kecerobohan ilmuwan di Institut Virologi Wuhan (WIV). Ada dugaan tentang kecerobohan ilmuwan di lembaga penelitian itu telah mengakibatkan penyebaran virus corona yang kini menjadi pandemi COVID-19.

Pasien Nol sebagai orang pertama yang terpapar COVID-19 diyakini sebagai pegawai magang di Institut Virologi Wuhan, yang kemudian menulari pacarnya. AS kini sedang berupaya memastikan apakah virus corona untuk pertama kalinya menjalar pada manusia saat pengujian atas kelelawar di WIV.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan bahwa lokasi WIV hanya beberapa mil dari pasar hewan liar di Wuhan yang dituding Pemerintah Tiongkok sebagai sumber wabah virus corona. “Masih ada banyak hal untuk dipelajari. Pemerintah AS tengah getol bekerja untuk mencari tahu,” ujar mantan direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) itu.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menuding Pasar Grosir Seafod Huanan di Wuhan sebagai sumber wabah virus corona. Tudingan itu didasari pada banyaknya pasien pertama COVID-19 adalah pemilik kios, pekerja ataupun pengunjuk reguler di pasar itu.

Namun masih belum jelas apakah pasar yang menjual banyak hewan eksotik untuk dikonsumsi itu juga menyediakan kelewawar yang dianggap sebagai sumber COVID-19. Sebab, trenggiling pun dianggap sumber wabah virus corona.

Walakin, para pejabat intelijen AS yang semula mengesampingkan laporan bahwa coronavirus dibuat di laboratorium untuk senjata biologis, kini tengah menyelidiki apakah virus mematikan itu tanpa disengaja keluar dari fasilitas pengujian. Seorang sumber dari kalangan intelijen mengatakan bahwa pejabat AS dan Inggris mempertimbangkan kemungkinan itu.

Pada 2018, pejabat Kedutaan Besar AS di Tiongkok yang baru saja mengunjungi WIV telah memperingatkan kemungkinan munculnya wabah mematikan. Mereka mengkhawatirkan ilmuwan di WIV itu melakukan tindakan pencegahan yang terlalu minim dalam melakukan penelitian yang riskan tentang virus corona dari kelelawar.

Diplomat AS di Tiongkok pun mengirimkan kawat diplomatik berkategori ‘sensitive but unclassified’ atau SBU ke Washington. Salah satu kawat diplomatik menyebut WII memiliki kekurangan serius soal teknisi dan penyelidik terlatih untuk menjalankan laboratorium itu secara aman.

Para pejabat intelijen Inggris dan Amerika Serikat (AS) menduga Tiongkok tak terbuka soal kecerobohan ilmuwan peneliti virus corona di Institut Virologi Wuhan (WIV).

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News