JPNN.com

Asap Mulai Menyebar Hingga Selat Malaka, Singapura dan Malaysia Waspada

Jumat, 19 Agustus 2016 – 18:02 WIB Asap Mulai Menyebar Hingga Selat Malaka, Singapura dan Malaysia Waspada - JPNN.com

JAKARTA - Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau masih terjadi di beberapa tempat. Pantauan satelit menunjukkan sebaran asap atau gas CO2 menyebar hingga Selat Malaka.

"Namun demikian, belum mempengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapore. Indeks Standar Pencemaran Udara di Malaysia dan Singapore masih baik," ujar Sutopo, Jumat (19/8).

Menurut Sutopo, dari 339 titik hotspot di seluruh Indonesia yang terpantau satelit Modis dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan (Lapan) pada Jumat, terdapat 32 titik api di Riau. Dengan rincian 10 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang dan 22 hotspot pada tingkat kepercayaan tinggi.

"Titik hotspot pada tingkat kepercayaan sedang paling banyak di Kalimantan Barat. Dari 218 titik, sekitar 96 titik berada di Kalbar," ujar Sutopo.

Kemudian Kalimantan Selatan (7 titik), Kalimantan Tengah (16 titik), Kalimantan Timur (1 titik), Jawa Barat (2 titik), Jawa Tengah (1 titik), Jawa Timur (1 titik), NTT (14 titik), Bangka, Belitung (17 titik), Maluku (8 titik), Maluku Utara (1 titik), Sulawesi Selatan (7 titik), Sulawesi Tengah (1 titik), Sulawesi Tenggara (1 titik), Sumatera Barat (2 titik), Sumatera Selatan (9 titik), Sumatera Utara (14 titik), Jambi (4 titik) dan Kepulauan Riau (1 titik).

Sementara itu, untuk 121 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, sebarannya kata Sutopo masing-masing Kalimantan Barat (62 titik), Kalimantan Selatan (1 titik), Kalimantan Tengah (7 titik), Kalimantan Timur (1 titik), NTT (1 titik), Bangka Belitung (7 titik), Lampung (1 titik), Riau (22 titik), Sumatera Selatan (4 titik), Sumatera Utara (14 titik), dan Sulawesi Selatan (1 titik).

"Upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan oleh ribuan personil satgas terpadu dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, relawan dan karyawan perusahaan perkebunan," ujar Sutopo.

Sutopo memperkirakan, puncak kemarau yang terjadi pada September mendatang, menjadi periode kritis kebakaran hutan dan lahan. Umumnya pada periode September, hotspot paling banyak terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Karena itu penanganan akan terus diintensifkan.(gir/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...