Bahasa Teknik

Oleh: Dahlan Iskan

Bahasa Teknik
Dahlan Iskan di Stadion Jakarta. Foto Instagram Dahlan Iskan

Dalam diskusi-diskusi teknik itu, yang banyak dibahas adalah: bagaimana caranya.

Baca Juga:

Konstruksi stadion itu memiliki 8 tiang utama. Bulat. Kokoh. Diameternya 6 meter. Yang tingginya 70 meter.

Di 8 tiang tama itulah seluruh atap akan bertumpu. Tentu masih ada banyak tiang lainnya yang lebih kecil. Yang juga ikut menopang: 64 tiang.

Maka para insinyur itu memilih 8 tiang utama tersebut untuk tumpuan menaikkan atap. Di puncak 8 tiang itu ditambahi kerangka baja setinggi 6 meter. Baja itulah yang menjadi pusat mengerek kerangka atap. Di puncak tiang itu dipasang hidrolis. Untuk menarik ''tali'' –yang terbuat dari kawat baja (slink).

Setelah ditemukan cara itu, kerangka atap pun dirangkai di bawah. Panjangnya 267 meter. Lebarnya 245 meter. Beratnya itu tadi: 3.900 ton.

Bentangan atap itu begitu lebarnya. Kerangka utamanya dari pipa-pipa khusus: belum diproduksi di Indonesia. Masih harus diimpor dari Tiongkok. Itulah pipa 60 cm. Begitu besarnya dari dekat. Begitu kecilnya kalau dilihat dari atas rumput lapangan.

Pipa-pipa selebihnya, yang lebih kecil, semuanya produksi dalam negeri.

Setelah kerangka atap selesai dibuat, diikatlah di 8 pinggirnya. Setiap tempat diikat dengan dua tali. Kalau satu putus masih ada yang menahan. Tali 16 utas itu ditarik ke 8 puncak tiang utama. Satu tiap kebagian 2 tali.

Ilmu teknik itu tidak berpolitik. Pun tidak beragama. Namun, kalau yang ditulis ini tentang teknik baru di stadion baru Jakarta, arahnya bisa ke mana-mana.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News