Bangsa Besar versus Cabai

Bangsa Besar versus Cabai
Bangsa Besar versus Cabai
Selesai sudah? Alamak, jangan direduksi begitulah, Pak. Jangan lupa jika menurut data Badan pusat Statistik (BPS) kenaikan harga cabai menyumbang inflasi tertinggi sebesar 0,26% dari angka inflasi pada bulan Juni sebesar 0,97%. Bahkan diprediksi inflasi tahun ini akan mencapai 6%, di atas target yang diperkirakan oleh pemerintah. Ini bukan soal sepele.   

Soal statistik Rp 100 sehari itupun, saya kira tidak real. Tidak semua orang kita suka makan cabai. Sambal di Jawa itu manis. Saudara kita kaum mayoritas ini tak sebanyak orang di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi menikmati cabai. Belum dipotong lagi dengan balita, orang jompo dan yang berpantang. Kalkulasi pak Bayu tadi pun menjadi  tidak real.

Jadi saya pikir-pikir, bagaimana pun musim tanam dan panen cabai perlu diatur dan disesuaikan dengan kondisi iklim. Anomali iklim mestinya bisa dipelajari oleh Balai Metereologi dan Geofisika dan menyosialisasikannya kepada petani. Targetnya, bagaimana caranya agar panen tersebar sepanjang tahun.

Eh, komentar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, Rabu (21/7) lalu, pun terdengar  kontroversial. Katanya, tidak perlu impor cabai. Meski menekan harga, tetapi akan memukul cabai lokal. Kecuali di daerah perbatasan, seperti Entikong, Kalimantan, dan konon, tidak menyebabkan harga anjlok.

ISTRI saya berkata bahwa menjelang bulan puasa dan lebaran, harga-harga kebutuhan pokok pasti meriang. Naik. Itu pengalaman empirik ibu rumahtangga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News