JPNN.com

Banyak Informasi Salah tentang Produk Bebas Asap

Jumat, 23 Agustus 2019 – 18:55 WIB Banyak Informasi Salah tentang Produk Bebas Asap - JPNN.com

jpnn.com - Perusahan tembakau kelas dunia, Philip Morris International Inc. (PMI) baru saja merilis kajian ilmiah yang berjudul 'Unsmoke: Clearing the Way for Change'. Dua poin utama pada kajian tersebut merupakan dampak merokok pada hubungan pribadi dan kurangnya informasi yang tersedia tentang produk bebas asap rokok.

"Saat ini ada banyak informasi yang salah beredar tentang produk bebas asap, dan ini menyebabkan kebingungan. Ini adalah salah satu rintangan terbesar yang dihadapi dunia untuk menjadi bebas asap," kata Direktur Operasional PMI Jacek Olczak, seperti dikutip dari Yahoo.com, Rabu (21/8).

Padahal kenyataannya, ada opsi produk lebih baik yang tersedia bagi perokok yang tidak dapat berhenti merokok. "Sangat perlu adanya percakapan secara global, yang berdasarkan penelitian ilmiah dan fakta, tentang produk alternatif ini," tuturnya.

Kajian ilmiah itu dilakukan oleh perusahaan riset independen, Povaddo. Survei tersebut dilakukan di 13 negara, Argentina, Australia, Brazil, Denmark, Jerman, Hong Kong, Israel, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat, dengan responden orang dewasa berusia 21-74 tahun, dari 24 April – 6 Mei 2019.

Pada penelitian tersebut tidak ada pertanyaan bahwa pilihan terbaik bagi perokok adalah berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi nikotin. Sebab, pada kenyataannya masih banyak perokok yang tidak bisa berhenti merokok.

Dari kajian tersebut, empat dari lima responden setuju bahwa perubahan memang diperlukan. Hanya lebih dari separuh perokok dewasa yang disurvei (55 persen) mengatakan mereka memiliki informasi yang dibutuhkan untuk membuat pilihan tentang produk bebas asap rokok.

Dari 13 negara, pertimbangan terkuat untuk beralih, setelah mendapatkan hasil dari informasi yang lebih baik, ditunjukkan oleh negara-negara Amerika Latin. Brasil dan Meksiko (masing-masing 85 persen) serta Argentina (80 persen). Adapun yang terendah justru dari negara-negara di Eropa, seperti Jerman (51 persen) dan Denmark (47 persen).

“Kami menciptakan Gerakan untuk membantu dunia tidak merokok,” kata Senior Wakil Presiden Komunikasi Global PMI Marian Salzman.

Menurut Marian, hasil kajian ini merupakan salah satu jajak pendapat lintas budaya terbesar yang pernah dilakukan tentang dampak merokok terhadap hubungan.

“Mereka menunjukkan kepada kami di mana terdapat perbedaan dalam nilai-nilai sosial. Tetapi yang lebih penting mereka mengungkapkan kesamaan yang akan membantu inisiatif #unsmkoeyourworld berpindah dari orang ke orang, kota ke kota, dan perokok menjadi tidak merokok untuk membawa perubahan global,” tandasnya.(chi/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...