Banyak Pemuda Menganggur & Putus Sekolah, Bonus Demografi Jadi Malapetaka?

Banyak Pemuda Menganggur & Putus Sekolah, Bonus Demografi Jadi Malapetaka?
Para peserta, pemateri, pembahas dalam seminar dengan tema Antisipasi Capaian Outcome pada Bonus Demografi besutan Badan Pengurus Pusat Observasi Kesehatan Indonesia di Universitas Yarsi. Foto Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Wendy Hartanto mengungkapkan fakta menarik soal bonus demografi. Dari hasil telaah terhadap proyeksi penduduk setiap sensus untuk 30-40 tahun ke depan, dia membeber peluang bonus demografi untuk Indonesia.

Seharusnya, ketika penduduk Indonesia makin menua, maka ada populasi baru dengan penambahan anak-anak. Misalnya, setiap orang tua diganti dua anak.

Nah, ini ada tanda-tanda di masing-masing provinsi sekarang ada yang tidak dua anak, sehingga makin menurun populasinya. Akibatnya yang menurun usia produktif, sedangkan lansia makin banyak sehingga itu menjadi beban.

"Jadi, hilanglah bonus demografi itu dan justru ketergantungan makin tinggi," kata Wendy dalam seminar dengan tema Antisipasi Capaian Outcome pada Bonus Demografi besutan Badan Pengurus Pusat Observasi Kesehatan Indonesia di Universitas Yarsi baru-baru ini.

Dia melanjutkan jumlah lansia ini makin banyak dan mengompensasi menurunnya usia 0-18 tahun. Oleh karena itu, Indonesia perlu memberikan perhatian kepada para pemuda karena bonus demografi itu tercapai kalau pemudanya produktif.

Dari data yang ada, ujar Wendy, banyak pemuda menganggur, tidak sekolah serta tidak mendapat training. Itu dinilai berbahaya, apalagi jumlahnya 25 persen lebih dari total pemuda usia 16-30 tahun.

Melihat fakta tersebut Rektor Universitas Yarsi Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D., mengatakan bonus demografi jangan-jangan bisa jadi malapetaka karena ternyata usia yang seharusnya produktif malah tidak produktif, apalagi karena cara pikirnya. Kemudian, didera penyakit cukup banyak sehingga mengganggu produktivitasnya.

"Nah, stunting adalah hulunya," cetus Prof. Fasli.

Banyak pemuda menganggur dan putus sekolah dinilai menjadikan bonus demografi sesuatu yang membahayakan. Simak pendapat para pakar 

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News