Banyak Warga Australia Percaya Rasisme Masih Hidup, Sebagian Besar Non-Kulit Putih Pernah Merasakan Langsung

Banyak Warga Australia Percaya Rasisme Masih Hidup, Sebagian Besar Non-Kulit Putih Pernah Merasakan Langsung
Mohammad Al-Khafaji tiba di Australia sebagai pengungsi di usia 13 tahun. (Supplied: Mohammad Al-Khafaji)

Dalam survei 'Australia Talks' yang dilakukan ABC tahun ini, disimpulkan tiga dari empat warga di Australia yang bukan berasal dari Eropa merasa mereka pernah menghadapi diskriminasi karena latar belakang etnis mereka.

Survei tersebut juga menemukan mayoritas warga Australia, dari semua latar belakang ras dan pandangan politik, mengatakan rasisme masih marak sekarang ini, kecuali pendukung Partai One Nation.

Bagi Mohammad yang sekarang menjadi direktur eksekutif badan multibudaya Federation of Ethnic Communities' Councils of Australia, statistik yang ada konsisten dengan apa yang dialaminya.

"Ini tidak mengejutkan saya, penting sekali bagi kita untuk membicarakan masalah ini, mengenai rasisme apa yang terjadi, tidak harus berupa ancaman fisik di jalanan, bisa saja dengan komentar selintas yang muncul," katanya.

Terkejut semakin banyak mengakui  adanya rasisme

Rasisme juga dialami oleh pemilik toko roti di Sydney Mohammad Makki.

Ketika perang sipil terjadi di Lebanon di tahun 1970-an, orang tuanya mengungsi ke Sydney untuk mencari kehidupan lebih baik.

Walau lahir di Australia, Makki tidak bisa menghindar dari cemoohan karena dia adalah seorang pria Muslim asal Timur Tengah.

"Sudah hampir 20 tahun lalu, 11 September, warga Muslim di seluruh dunia mengalami persekusi dan jadi sasaran," katanya.

Sebagian besar warga Australia mengatakan masih banyak masalah rasisme hingga saat ini

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News