JPNN.com

Benarkah Sinar Matahari Mampu Mencegah Kanker?

Selasa, 05 Februari 2019 – 05:04 WIB Benarkah Sinar Matahari Mampu Mencegah Kanker? - JPNN.com

jpnn.com - Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari merupakan upaya meningkatkan kesadaran terhadap penyakit kanker. Salah satu upaya mencegah kanker adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Tak hanya itu, sinar matahari juga dikatakan bisa memberikan manfaat yang sama dalam mencegah kanker.

Dibentuk oleh Union for International Cancer Control (UICC), Hari Kanker Sedunia dimaksudkan untuk mendukung Deklarasi Kanker Dunia yang dibuat pada 2008 silam. Tujuan utamanya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker secara signifikan. 

Berbagai inisiatif pun dijalankan untuk memberi dukungan pada para penyintas kanker. Selain pengobatan medis, ada banyak alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi hingga mencegah penyakit kanker. Salah satu upaya yang sering dibahas saat ini adalah berjemur di bawah sinar matahari. Benarkah cara tersebut manjur?

Sinar matahari sebagai penangkal kanker

Sinar matahari kerap dianggap sebagai biang keladi kerusakan kulit. Padahal dalam dosis yang tepat, ia dapat memberikan manfaat yang signifikan, salah satunya mengatasi penyakit kanker, sesuai penjelasan dr. Nadia Octavia dari KlikDokter berikut ini.

“Meskipun paparan sinar matahari secara berlebihan bisa meningkatkan risiko kanker kulit, namun paparan yang cukup justru dapat mencegah beberapa jenis kanker, seperti kanker kolorektal, kanker ovarium, kanker prostat dan kanker pankreas,” ujarnya.

Menurut penelitian yang dilansir dari Verywell Health, kekurangan vitamin D dapat meningkatkan risiko kanker. Sehingga, banyak orang yang mengandalkan asupan vitamin D untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian.

Meski begitu, butuh penelitian lebih lanjut sebelum meyakini bahwa konsumsi suplemen ini secara rutin baik untuk pencegahan kanker. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan pada hewan menemukan bahwa kadar vitamin yang cukup dapat membantu mencegah leukemia. Meski begitu, hal ini belum dibuktikan pada manusia.

Sumber klikdokter

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...