Beralih Bertani Melon

Beralih Bertani Melon
Beralih Bertani Melon
Kondisi seperti itu membuat para petani melon memeras otak menyiasati kebutuhan air tanamannya. Mereka menggunakan sistim hidroponik yang ditanam dalam polibag (plastic media tanam). Pembibitan melon menggunakan karung bekas yang didalamnya juga sudah terisi tanah dan pupuk kandang dengan ukuran yang ditentukan. "Satu banding satu. Artinya, kalau satu sak tanah berarti dibutuhkan satu sak pupuk kandang," tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala UPT Pertanian Giligenting Fathan Karim. Kebutuhan air terhadap melon yang mereka tanam tergolong sedikit. Untuk 250 pohon, dari umur 1 hingga 45 hari butuh hanya sekitar 15 liter air per hari. "Itu (jumlah air yang disiramkan, Red) tergolong sedikit," katanya. Sedangkan melon siap dipanen memasuki umur 55 hari hingga 60 hari.

Kalau kondisi tanaman sehat, mereka hanya menyisakan dua hingga tiga buah di ruas daun dengan tiga cabang. Yakni ruas daun ke 11, 12, dan 13. Tapi kalau kondisinya tidak memungkinkan, maka hanya disisakan satu buah ruas daun. "Rata rata kalau yang satu cabang berat buah melon berkisar 2,5 kilogram, tapi kalau dua cabang satu melon 1,6 kilogram per melon," tuturnya.

Karim mengungkapkan, di awal membudidayakan melon hanya sekitar 200 pohon. Tapi, musim kemarau tahun ini jumlah budidaya melon di Giligenting tercatat hingga 115 ribu pohon yang ditanam oleh ratusan petani dengan luas lahan sekitar lima hektar dengan rata-rata 23 ribu tanaman per hektare.

SUMENEP- Krisis air bersih di Kecamatan Giligenting sudah menjadi sesuatu yang biasa. Tapi, di tengah sulitnya mendapatkan air dan dengan kondisi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News