JPNN.com

Beri Klarifikasi soal Merek Merdeka Belajar, Mas Nadiem dan Mbak Najelaa Kompak Banget

Jumat, 14 Agustus 2020 – 18:28 WIB
Beri Klarifikasi soal Merek Merdeka Belajar, Mas Nadiem dan Mbak Najelaa Kompak Banget - JPNN.com
Mendikbud Nadiem Makarim saat mengklarifikasi soal merek dagang Merdeka Belajar. Foto Tangkapan layar Zoom

jpnn.com, JAKARTA - Polemik tentang slogan Merdeka Belajar sebagai merek dagang milik PT Sekolah Cikal yang dijadikan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya klir.

Mendikbud Nadiem Makarim dan Founder PT Sekolah Cikal Najelaa Shihab pun memberikan klarifikasi atas masalah tersebut.

Baik Nadiem maupun Najelaa sama-sama menyebut tidak ada masalah krusial terkait penggunaan slogan Merdeka Belajar untuk program Kemendikbud.

"Nama Merdeka Belajar dapat digunakan bersama selama untuk kepentingan dunia pendidikan dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan kesiapan Sekolah Cikal menghibahkan hak atas merek dagang dan merek jasa Merdeka Belajar pada Kemendikbud," kata Nadiem dalam bincang media secara daring, Jumat, (14/8).

Dia juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT Sekolah Cikal yang selama bertahun-tahun telah menggerakkan Merdeka Belajar dengan semangat gotong royong ke komunitas guru.

Najelaa pun menguatkan pernyataan Nadiem. Menurut dia, baik Sekolah Cikal maupun pihak lain tetap bisa menggunakan slogan Merdeka Belajar  untuk kepentingan pengembangan pendidikan tanpa kompensasi apa pun sepanjang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami mempunyai visi yang sama dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas dan setara, keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ini kami harap akan mengakhiri polemik dan sorotan yang sempat mengemuka,” ujar Najelaa.

Kemendikbud telah meluncurkan lima episode Merdeka Belajar. Episode pertama Merdeka Belajar tentang mengubah ujian nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, serta menghapus ujian sekolah berstandar nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
ara