Bisnis Infrastruktur Gas tidak Seperti Jalan Tol 

Bisnis Infrastruktur Gas tidak Seperti Jalan Tol 
Pipa Gas. ILUSTRASI. Foto: JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gajah Mada Fahmy Radhi menilai tantangan pembangunan infrastruktur gas bumi bukan perkara mudah.

Target pemerintah untuk menaikkan bauran energi gas bumi hingga 22 persen pada 2025 dinilai bakal sulit terwujud.

Hal itu terjadi jika pembangunan infrastruktur gas tidak dilakukan secara masif, dengan mengoptimalkan sentra-sentra industri baru yang bermunculan di berbagai daerah.

Di tengah ketidakpastian pasokan gas di pasar, biaya investasi pembangunan infrastruktur gas sangat besar dan kembalinya biaya investasi dalam jangka panjang, sehingga membuat risiko bisnis tinggi. 

Inilah yang membuat hanya badan usaha yang memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan gas bumi yang berani mengambil risiko membangun infrastruktur.

"Dengan beban biaya dan risiko yang besar, akan sulit bagi badan usaha manapun untuk membangun berbagai infrastruktur gas yang mampu menjangkau banyak daerah. Bisnis infrastruktur gas tidak seperti jalan tol yang tarifnya bisa dievaluasi secara periodik," ujar Fahmy, Rabu (25/9).

Menurut Fahmy selama ini struktur harga gas bumi sebanyak 70 persen untuk biaya hulu. Karena itu jika harga gas terlalu rendah akan sulit bagi siapapun untuk mengembangkan infrastruktur.

Di tengah meningkatnya impor migas, yang membuat defisit neraca perdagangan migas naik, yakni optimalisasi gas bumi dalam kebijakan bauran energi sangat tepat.

Selama ini struktur harga gas bumi sebanyak 70 persen untuk biaya hulu. Karena itu jika harga gas terlalu rendah akan sulit bagi siapapun untuk mengembangkan infrastruktur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News