Buruh Tani Perempuan di Australia Dipaksa Bekerja Hanya Mengenakan Pakaian Dalam

Buruh Tani Perempuan di Australia Dipaksa Bekerja Hanya Mengenakan Pakaian Dalam
Pemegang Working Holiday Visa (WHV) yang dikenal sebagai 'backpacker' harus bekerja tiga bulan di pertanian untuk mendapatkan visa tahun kedua.

Catherine bertanya apakah dia bisa membayar biaya bensin agar ia datang lagi dan mengambil barang-barangnya, Catherine menuduh Nirmal saat itu menjawab dengan meminta bantuan seksual.

"Dia berkata, 'Saya tidak akan memberi Anda uang untuk bensin, tapi jika Anda ingin uang, kita bisa bertemu di tempat saya dan kamu melakukan pijatan dengan memasturbasinya di akhir," katanya.

Nirmal membantah pernah mengatakan kepada Catherine untuk memberikannya bantuan seksual.

Dia mengatakan dirinya dan Catherine bertengkar ketika Catherine memasuki rumahnya untuk mengambil barang-barangnya tanpa izin.

Pemerintah tak menjelaskan apakah majikan yang melanggar hukum bisa terus merekrut

Menurut detektif Brett masalah yang dihadapi oleh para 'backpacker' adalah mereka kadang tidak mengetahui jika majikan mereka pernah dituduh melakukan tindakan tidak pantas atau telah melakukan pelanggaran hukum.

"Saya tidak mengetahui adanya organisasi atau daerah yang memiliki informasi bagi mereka, namun menurut saya kalau ada ini tentu sangat bermanfaat," kata Brett.

Alison Rahill direktur eksekutif Gugus Kerja Anti Perbudakan di Keuskupan Gereja Katolik Sydney mengatakan aturan mengenai visa bekerja di pertanian yang lain lebih "transparan".

Sebagai contoh, Pemerintah Australia mengeluarkan daftar majikan atau pemilik lahan mana saja yang memenuhi persyaratan bagi Program Pekerja Musiman bagi Pekerja Pasifik.

Sejumlah perempuan 'backpacker' yang bekerja di pertanian Australia mengaku telah mengalami pelecehan seksual dari majikannya

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News