Cerita Pedagang di Kawasan Malioboro Saat Kerusuhan Kemarin, Mencekam

Cerita Pedagang di Kawasan Malioboro Saat Kerusuhan Kemarin, Mencekam
Kondisi kawasan Malioboro Yogyakarta pada Jumat (9/10), usai aksi massa penentang UU Cipta Kerja yang berujung rusuh pada Kamis (8/10). Foto: ANTARA/Eka AR

"Taman di depan Gedung DPRD DIY juga sedang kami perbaiki," ia menambahkan.
Cerita Pedagang di Kawasan Malioboro Saat Kerusuhan Kemarin, Mencekam
Kondisi restoran yang terbakar pada saat demonstrasi untuk menentang pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (8/10). Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Sebagian pedagang kaki lima saat ini belum berjualan, khususnya yang berada di bagian utara Jalan Malioboro.

"Sebenarnya tidak ada imbauan bagi PKL untuk tutup, tetapi pedagang berinisiatif untuk tidak berjualan dulu sembari menunggu perkembangan kondisi," kata Ekwanto.

Dia mengatakan bahwa UPT belum menerima laporan dari para pedagang mengenai kerugian akibat demonstrasi rusuh. "Tetapi kami sudah meminta mereka untuk menyampaikan laporan," katanya.

Seorang pedagang kaki lima di kawasan Malioboro yang tergabung dalam Paguyuban Handayani, Sogi Wartono, menyesalkan aksi massa yang semula berjalan damai kemudian menjadi rusuh.

"Kami tidak menyangka aksinya bakal sebesar itu dan ricuh. Banyak gelas, piring, sampai tempat duduk kami yang rusak atau hilang," katanya, menambahkan bahwa saat itu pedagang sama sekali tidak bisa berkutik.

Sogi sudah meminta para pedagang yang tergabung dalam paguyuban menginventarisasi kerusakan dan kerugian akibat kerusuhan.

"Sebetulnya, jika aksi berlangsung damai, kami dari PKL akan merasa senang karena jumlah konsumen meningkat. Harapannya, jika ada aksi massa atau demo berlangsung tertib dan damai," katanya.

Sejumlah fasilitas umum di kawasan Malioboro Yogyakarta tak luput dari amukan massa.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News