Corona di Iran Kembali Mengganas setelah Kegiatan Publik Berjalan Lagi, Ini Penyebabnya

Corona di Iran Kembali Mengganas setelah Kegiatan Publik Berjalan Lagi, Ini Penyebabnya
Ilustrasi warga Iran di tengah menghadapi pandemi corona. Foto: Anadolu Agency

"Jujur saja, itu menakutkan dan kami tampaknya tidak sepenuhnya menyadari betapa gawatnya situasi ini," ujar Mohammad Taala, pegawai universitas swasta di Teheran, dikutip dari situs aa.com.tr, Minggu 7 Juni 2020.

Iran diserang pandemi ini sejak Februari dan menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang paling terdampak.

Negara itu kemudian melonggarkan pembatasannya pada April setelah ada penurunan signifikan dalam kasus baru dan angka kematian.

Lonjakan kasus baru kembali dilaporkan pada Mei setelah transportasi publik dan pertokoan kembali beroperasi dan masjid kembali dibuka.

Menurut para ahli kesehatan, grafik kasus selama beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa tanda-tanda gelombang kedua tengah melanda negara itu. Awal pekan ini, Menteri Kesehatan Saeed Namaki meminta warga mematuhi aturan pembatasan sosial.

"Pertarungan kita melawan pandemi masih jauh dari selesai. Jangan sampai upaya kita selama tiga bulan terakhir menjadi sia-sia karena kita lalai," kata dia.

Namaki menekankan, pembatasan mobilitas harus diberlakukan kembali di Teheran karena "virus korona lebih berbahaya daripada polusi udara".

Sejumlah rumah sakit di Teheran melaporkan peningkatan jumlah pasien dalam beberapa pekan terakhir, sehingga menambah beban dokter dan perawat.

"Kami minta orang-orang selalu memakai masker dan mematuhi aturan kesehatan lainnya. Kami juga mendesak pihak berwenang untuk tidak terburu-buru mencabut karantina wilayah," tegas Shapouri, seorang perawat di Rumah Sakit Masih Daneshvari.

Ada tanda-tanda gelombang kedua pandemi corona di Iran setelah ada pelonggaran pembatasan dan pelanggaran protokol kesehatan seperti ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News