Cuaca Ekstrem dan Garam Mak-Mak

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Cuaca Ekstrem dan Garam Mak-Mak
Hujan disertai petir. Foto ilustrasi: M Fathra Nazrul Islam/JPNN.com

Di negara-negara yang sudah maju, listrik selalu ada, lampu jalan terus hidup di malam hari, AC, komputer, dan TV dapat selalu berfungsi. Hal ini sudah menjadi gaya hidup modern selama berpuluh tahun.

Manusia modern tidak menyadari dampak lingkungannya sampai terjadi situasi darurat seperti di Amerika, atau ancaman cuaca ekstrem di Jakarta.

Manusia modern mengandalkan suplai listrik setiap hari. Cara produksi listrik sejauh ini menyumbang perubahan iklim paling banyak.

Manusia modern harus memikirkan mendapatkan listrik yang lebih bersih, dan menggunakannya untuk membantu mengurangi emisi karbon. Pemakaian moda transportasi berbasis listrik adalah salah satunya.

Gates menerangkan bagaimana penciptaan energi bersih ini dapat dilakukan dengan mempercepat inovasi, memberikan insentif yang menurunkan biaya dan mengurangi risiko, juga membuat aturan agar teknologi baru dapat bersaing. Upaya lainnya ialah membuat standar kelistrikan, mestandarkan bahan bakar bersih dan standar produk yang bersih, hingga memberi denda atas perusakan karbon.

Mengatasi ancaman lingkungan tidak bisa dilakukan dengan kebijakan instan dan menginginkan hasil yang instan juga. Apa yang dilakukan oleh Heru Budi Hartono di DKI menunjukkan cara berpikir yang paradoksal dan tidak koheren.

Ketika Jakarta terancam cuaca ekstrem, dia malah sibuk menebar garam. Mak-mak di Jakarta bisa protes kalau suplai garam kosong gegara diborong oleh Pemprov DKI. (***)


Berita Selanjutnya:
Wanita Emas

Mak-mak di Jakarta bisa protes kalau suplai garam kosong gegara diborong oleh Pemprov DKI.

Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News