Jumat, 16 November 2018 – 22:50 WIB

Dewan Juri FFI 2010 Dipecat

Jumat, 03 Desember 2010 – 08:48 WIB
Dewan Juri FFI 2010 Dipecat - JPNN.COM

JAKARTA - Malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2010 tinggal beberapa hari lagi. Pada Senin mendatang (6/12) ajang penghargaan insan perfilman Indonesia itu digelar di Central Park, Jakarta Barat. Namun, alih- alih berbicara tentang konsep panggung atau rupa perhelatan, mengingat acara sudah dekat. Yang muncul ke publik justru deretan konflik internal yang tak berkesudahan.

Yang terbaru, Komite FFI sebagai penyelenggara memecat dewan juri kemarin (2/11). Pernyataan tentang pemecatan dewan juri yang terdiri atas Jujur Prananto (penulis skenario), Seno Gumira Ajidarma (penulis), Rima Melati (aktris), Anto Hoed (musikus), Nur Hidayat (kamerawan), Salim Said (wartawan senior), serta Marselli Sumarno (kritikus film) diucapkan Koordinator Pengarah KFFI Deddy Mizwar.

"Kami memang memutuskan mencabut SK pengangkatan juri kemarin (Rabu) dan membuat SK penunjukan dewan juri baru," ungkapnya saat dihubungi.

Dewan juri baru terdiri atas Komite Seleksi yang terbentuk sebelumnya dan ditambah dua orang lagi, yaitu Alex Komang dan Areng Widodo. "Hari itu juga dewan juri baru langsung bekerja. Sebab, besok (hari ini) pembacaan nominasi harus dilakukan. Pembacaannya dilakukan di acara Dahsyat, Studio 6 RCTI, pukul 09.00. Dengan demikian, FFI kembali berjalan dengan normal sesuai agenda semula. Hanya 10 judul film yang berhak bersaing," lanjutnya.

Jujur Prananto, selaku ketua dewan juri, ketika dikonfirmasi mengaku sudah mengetahui hal tersebut. SK pencabutan juga sudah dia terima. Mengenai kondisi itu, penulis skenario film Ada Apa dengan Cinta?, Petualangan Sherina, dan Cintapuccino itu mengaku lega.

"Kami lega. Kalau tugas ini diteruskan, berarti kami mengingkari hati nurani. Tapi, di sisi lain nyesek juga, karena kami gagal memberikan hasil yang terbaik," ungkapnya melalui sambungan telepon.

Pemecatan itu merupakan buntut pembatalan pembacaan nominasi di Batam pada Minggu (28/11). Ada ketidaksepahaman antara KFFI dan dewan juri untuk nominasi film terbaik. KFFI sudah memutuskan 10 judul film yang berhak menjadi nominasi. Tetapi, dewan juri memasukkan satu judul film, di luar 10 judul film yang sudah ditentukan, sebagai salah satu nominasi. Film tersebut adalah Sang Pencerah.

Jujur dan dewan juri yang lain sadar bahwa mereka dianggap mbalelo oleh pemberi tugas. Namun, niat mereka memasukkan judul film Sang Pencerah ke dalam daftar nominasi bukan tanpa alasan. Kata Jujur, KFFI pun sebenarnya tahu bahwa dewan juri akan memasukkan Sang Pencerah ke dalam bursa nominasi.

"Niniek L Karim, Alex Sihar, dan Labes Widar tahu. Tidak mungkin kami bertindak sembrono. Karena ini di luar kelaziman, kami memberitahukan dulu," terangnya.

Malah dewan juri meminjam copy film Sang Pencerah dari KFFI. Setelah menonton film yang dimainkan Lukman Sardi itu, tujuh juri kompak mengatakan bahwa film tersebut dengan gamblang bisa masuk nominasi film terbaik.

"Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Komite Seleksi, kami sepakat untuk memasukkan Sang Pencerah. Festival itu kan idealnya mencari film yang bagus. Lha, ini sudah ada barangnya yang jelas-jelas bagus, tapi kok tidak masuk seleksi. Kami pun melakukan itu karena melihat di buku pedoman tidak ada aturan mengikat yang melarang," jelasnya. (jan/c2/ayi)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar