Di Sini, Senjata dan Narkoba Sudah Digaris Merah

Di Sini, Senjata dan Narkoba Sudah Digaris Merah
Tampak nelayan di wilayah perbatasan RI-Filipina. FOTO: Manado Post/JPNN.com

Sedangkan di Filipina harganya sampai Rp 80 ribu/kg. Ikan tuna sendiri seperti pass masuk ke Filipina. Penjaga perbatasan Filipina lebih senang kalau ada yang hendak menjual ikan tuna.

“Istilahnya kalau membawa ikan akan melenggang masuk membusungkan dada meskipun di siang hari,” ujarnya. Untuk bertransaksi, tak ada kendala. Bisa tunai, bisa barter.

Selain ikan, nelayan Tinakareng juga membawa rokok dan kopra. Nantinya ditukar dengan beras, ayam, minuman soda, dan minuman beralkohol termasuk wine. Rokok biasanya ditukar dengan minuman. Selalu ada kebutuhan dari kedua belah pihak untuk dua jenis barang ini.

“Mungkin gengsi. Minuman dari luar negeri selain rasanya lebih enak juga jarang ditemui di Indonesia. Sama halnya dengan rokok. Bagi orang Filipina, rokok Indonesia rasanya lebih nikmat,” tuturnya.

Soal sistem barter, dua pihak sudah sama-sama punya pelanggan. “Sehingga untuk saling berbarter tidak membutuhkan cara khusus. Kalaupun tertangkap biasanya oknum penjaga diberikan uang dua hingga tiga juta,” ungkapnya.

Sekali menyeberang, bisa mendapatkan untung Rp 2 juta. Di batas Filipina dan Indonesia ini, mata uang rupiah maupun peso mudah didapat dan ditukar. Mudah juga diterima sebagai alat bayar.

Bagi pelintas pemula, tantangan ke negera tetangga lebih sulit. Setelah berhasil melewati penjagaan petugas perbatasan Indonesia, harus bisa menaklukkan laut lepas.

Pun, setibanya di negara itu, belum tentu juga bisa masuk. Awalnya, Fikran sampai harus main kucing-kucingan dengan petugas Filipina. Ditambah lagi, ada warga Filipina yang mulai merasa iri dengan keberadaannya.

Beberapa kali menggagalkan penyelundupan senjata dan narkoba. Bertarung nyawa di laut lepas demi rupiah. Itulah kisah penduduk Kampung Nanedakele

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News