Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia

Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia
LEGENDA RADIO AUSTRALIA: Nuim Khaiyath (kiri) menyambut hangat Jawa Pos di studio Radio Australia di Melbourne pekan lalu. -JAWA POS PHOTO-
Dengan jam terbang sedemikian banyak, beragam acara sudah dibuat dan populer karena disiarkan Nuim. Misalnya, Sabtu Gembira (Samba) yang dibawakan dengan logat Melayu Medan. Ada juga Dunia Olah Raga, Perspektif, dan kadang-kadang duet dengan Nina Yusac dalam Dunia Wanita serta berita internasional.

 

Karena banyaknya permintaan, acara-acara yang diasuh Nuim disiarkan pula oleh radio-radio di Indonesia seperti Radio Delta FM setiap Sabtu pagi . Selain itu, dia tampil dalam siaran Radio Ramako FM setiap Senin pagi dalam acara Poros Jakarta Melbourne.

 

Hebatnya, meski sudah menetap di Australia, tepatnya di Kota Merlbourne, selama berpuluh-puluh tahun (sejak 1974), Nuim masih tetap kukuh menyandang status warga negara Indonesia (WNI). Padahal, iming-iming keringanan hingga pembebasan pajak, asuransi kesehatan, dan berbagai kemudahan akan langsung diberikan pemerintah Australia kalau saja dia bersedia menjadi warga negara Australia.

 

"Istri saya yang paling heran dan sering ngotot agar saya mempertimbangkan tawaran Australia," ujarnya Nuim.

 Namun, meski menolak disebut seorang nasionalis, Nuim punya perasaan, jika lahir di Indonesia, kebahagiaan terbesar juga adalah dirinya harus mati sebagai warga negara Indonesia. "Bangsa kita sangat besar dengan alam dan orang-orang yang luar biasa. Tidak ada alasan untuk tidak bangga," tegasnya.

Baik buruk hubungan dua negara tidak hanya ditentukan para politikus. Penyiar seperti Nuim Khaiyath justru mendapat tempat penting dalam hubungan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News