Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia

Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia
LEGENDA RADIO AUSTRALIA: Nuim Khaiyath (kiri) menyambut hangat Jawa Pos di studio Radio Australia di Melbourne pekan lalu. -JAWA POS PHOTO-
 

Meski demikian, Nuim membebaskan seluruh keluarganya untuk mengikuti prinsipnya atau memilih menjadi warga negara Australia. "Soal-soal pribadi seperti itu, saya serahkan saja ke mereka," katanya.

 

Tidak hanya bersiaran, pada Februari 2009, Nuim menerbitkan buku berjudul Dunia di Mata Nuim Khaiyath. Dalam buku pertamanya itu, Nuim membahas aneka topik, mulai Obama, Israel, dan Amerika. Dia juga masih aktif menulis di rubrik Opini Nuim pada penerbitan OZ Indo Post Magazine.

 

"Saya ini paling sulit mendokumentasikan apa saja yang saya siarkan. Dengan buku, tentu lebih tertata dan bisa abadi," katanya.

 Dengan empat anak dan beberapa cucu, Nuim kini mengaku lebih banyak menikmati hidup dengan berenang, berwisata ke Indonesia, dan mengunjungi kolega serta teman lama. Dia betul-betul menerapkan prinsip hidup yang sering dibagikan pada akhir siaran: "Sukailah apa yang Anda kerjakan, jangan hanya mengerjakan apa yang Anda sukai!" (*)

Baik buruk hubungan dua negara tidak hanya ditentukan para politikus. Penyiar seperti Nuim Khaiyath justru mendapat tempat penting dalam hubungan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News