Ditelepon, Komandan Militer Bilang Rute Sudah Aman

Ditelepon, Komandan Militer Bilang Rute Sudah Aman
MAYAT - Proses evakuasi korban pembantaian di Maguindanao, Filipina, yang sebagian di antaranya adalah jurnalis. Foto: Xinhua/Jes Aznar.
Pindah mobil saat mengisi bensin, menghindarkan Aquiles Zonio dari pembantaian di Maguindanao. Berikut kesaksian wartawan Philippines Daily Inquirer itu dalam gaya bertutur, seperti dikutip dari situs resmi koran tempatnya bekerja.

IAN
Subang, karib saya sejak masih sama-sama bekerja di Gensan Media Cooperative, seperti biasa tengah menjadi tukang pengocok perut. Di sudut yang lain, Alejandro "Bong" Reblando tampak baru tiba. Di kalangan kami para wartawan yang bertugas di sekitar Maguindanao, Bong memang dikenal dengan julukan The Late. Tapi, seperti biasa pula, reporter senior itu tak pernah mau mengakui kalau terlambat.

Senin pagi 23 November itu, semua memang terasa normal. Kami, 37 wartawan dari berbagai media, sarapan bersama dengan staf dan kerabat Ismael "Toto" Mangudadatu di kediaman Wakil Walikota Buluan itu di Buluan. Menunya makanan rebusan khas setempat, yakni pastel.

Kami, para wartawan, berkumpul di tempat itu atas permintaan Toto. Dia meminta bantuan jurnalis untuk mengawal rombongan para perempuan - termasuk di dalamnya istrinya, Genalyn, dan dua saudara perempuannya, Eden serta Bai Farinna - mendaftarkan pencalonannya sebagai Gubernur Maguindanao ke ibukota provinsi Shariff Aguak.

Pindah mobil saat mengisi bensin, menghindarkan Aquiles Zonio dari pembantaian di Maguindanao. Berikut kesaksian wartawan Philippines Daily Inquirer

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News