Dulu Kuli Batu Kini jadi Bos, Sudah Keluarkan Rp 2 M untuk Bangun Masjid

Dulu Kuli Batu Kini jadi Bos, Sudah Keluarkan Rp 2 M untuk Bangun Masjid
BERSAHAJA: Sucipto menunjukkan keripik singkong di pabrik miliknya, di Desa Talok, Kecamatan Turen, saat diwawancarai 21 Juni lalu. Foto: FALAHI MUBAROK/RADAR MALANG

jpnn.com - Pabrik keripik singkong milik Sucipto ini barangkali menjadi yang terbesar di wilayah Malang Raya, bahkan mungkin di Jawa Timur. Kapasitas produksinya saat ini mencapai tiga ton per hari.

Tapi, jauh sebelum menjadi pengusaha besar seperti sekarang ini, Sucipto pernah hidup sangat miskin.

GIGIH MAZDA ZAKARIA

Bangunan pabrik keripik Cap Lumba-Lumba itu berdiri kokoh di atas lahan seluas satu hektar, di Desa Talok, Kecamatan Turen.

Pada bagian depan halaman pabrik itu, sebuah monumen lumba-lumba setinggi dua meter berdiri kokoh.

Lumba-lumba itu, seolah menjadi hewan yang sakral di mata sang pemilik pabrik. “Penggunaan nama itu berawal dari pengalaman saya saat berada di Pantai Ngliyep, 1998 silam. Waktu itu, saya melihat ada sekawanan lumba-lumba yang bergerak dari timur ke barat,” ujar Lumba, mencoba mengingat-ngingat lagi memori dua dekade silam, saat ditemui di rumahnya, akhir bulan lalu.

Meski begitu, usaha untuk memulai bisnis keripik singkong belum ia lakukan di tahun tersebut.

Kala itu, kehidupan Sucipto belum seperti sekarang. Sucipto mengais rezeki dengan menjalani pekerjaan kasar. Mulai dari petani, hinga kuli batu.

Pabrik keripik singkong milik Sucipto ini barangkali menjadi yang terbesar di wilayah Malang Raya, bahkan mungkin di Jawa Timur. Kapasitas produksinya

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News