Dulu Seteru, Kini Sekutu: Drama Politik Indonesia Menjelang Pemilu

Dulu Seteru, Kini Sekutu: Drama Politik Indonesia Menjelang Pemilu
Prabowo Subianto dan Budiman Sudjatmiko berpelukan saat deklarasi relawan Prabu Bersatu di Semarang (18/08). (Foto: Facebook/ Prabowo Subianto)

Politisi Budiman Sudjatmiko resmi dipecat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang telah menaunginya selama hampir dua dekade.

Pemecatannya ia terima dalam wujud sepucuk surat pada Kamis pekan lalu (24/08).

"[Ditandatangani oleh] Ibu Megawati dan Pak Sekjen, Pak Hasto Kristiyanto, dan [suratnya] diterima oleh putri saya yang kebetulan waktu kecil dikasih nama oleh Ibu Megawati," tutur Budiman kepada Kompas.

Ada tujuh poin pertimbangan PDI-P memecat Budiman, salah satunya karena melakukan "pelanggaran berat".

"Bahwa sesungguhnya sikap, tindakan, dan perbuatan Sdr Budiman Sudjatmiko, MA M.Phill selaku kader PDI-P yang tidak mengindahkan Instruksi Ketua Umum PDI-P untuk mendukung dan memenangkan Ganjar Pranowo sebagai Presiden Republik Indonesia pada Pemilu 2024 dengan mendukung calon presiden dari partai politik lain merupakan pelanggaran kode etik dan disiplin partai, yang dikategorikan sebagai pelanggaran berat," bunyi poin kelima dalam pertimbangan pemecatan tersebut.

Pemecatan dilakukan hanya enam hari, setelah Budiman dan calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mendeklarasikan relawan Prabu (Prabowo-Budiman) Bersatu di Jawa Tengah.

Ia memang terang-terangan tak mendukung Ganjar Pranowo, capres yang diusung partainya.

"Pak Ganjar baik, bukan buruk ya. Tapi Indonesia butuh kepemimpinan yang strategik untuk hari ini," kata Budiman yang mulai mendekati Prabowo sejak bulan lalu.

Politisi, partai politik, bahkan relawan juga bisa berbalik arah. Inilah politik Indonesia menjelang pesta demokrasi lima tahunan

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News