Eijkman

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Eijkman
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Penemuan Eijkman membuka khazanah baru tentang vitamin. Berkat jasanya tersebut, ia mendapat Hadiah Nobel 1929.

Pembubaran Eijkman dan peleburannya ke dalam BRIN menjadi sorotan dan kritik publik terutama kalangan akademis. Isu relasi kuasa di BRIN menjadi kontroversi dengan diangkatnya Megawati Soekarnoputri sebagai ketua dewan pengarah.

Megawati didampingi oleh Sri Mulyani Indrawati dan Suharso Monoarfa sebagai wakil ketua. Semua orang yang ada di dewan pengarah adalah orang-orang yang dipilih dan ditunjuk oleh rezim dan umumnya tidak punya pengalaman yang mumpuni dalam dunia riset.

Pengangkatan Megawati sebagai ketua dewan pengarah dianggap tidak tepat. Megawati adalah ketua partai politik yang sekarang sedang berkuasa.

Mega memperoleh gelar doktor honoris causa dari beberapa universitas, dan kemudian memperoleh gelar profesor dari Universitas Pertahanan. Meski demikian, polesan intelektual ini tidak serta-merta memberinya legitimasi untuk menjadi dewan pengarah lembaga yang seharusnya punya gengsi intelektual tinggi seperti BRIN.

Lembaga riset di mana pun di dunia seharusnya independen dari kekuasaan, meskipun lembaga itu menerima dana dari pemerintah. Lembaga riset ilmiah harus dipimpin oleh seseorang yang mempunyai prestasi dan reputasi ilmiah, bukan oleh seseorang yang punya kekuasaan politik.

Membayangkan BRIN di bawah Megawati Soekarnoputri sama saja membayangkan NASA (lembaga antariksa Amerika Serikat) dipimpin oleh Donald Trump atau oleh George Bush sebagai dewan pengarah.

Tugas BRIN tidak jauh-jauh dari NASA karena sama-sama meneliti dan mengeksplorasi ruang angkasa. Hasil penelitian NASA memang menjadi legitimasi politik bagi rezim yang berkuasa setelah menjadi hasil teknologi terapan.

Penemuan Eijkman membuka khazanah baru tentang vitamin. Berkat jasanya tersebut, ia mendapat Hadiah Nobel 1929.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News