Rabu, 22 Mei 2019 – 18:28 WIB

Eka Tjipta

Oleh Dahlan Iskan

Senin, 28 Januari 2019 – 05:50 WIB
Eka Tjipta - JPNN.COM

“Kalau saya tidak bawakan oleh-oleh bisa-bisa tidak boleh masuk rumahnya,” katanya bergurau.

Langsung ia tawarkan gaji dua kali lipat. Dari Rp 15 ribu sebulan ke Rp 30 ribu.

Tawaran diterima dengan senang. Tetapi baru bisa bulan berikutnya. Ia tidak mau kehilangan gaji sebulan itu.

Eka tidak sabar. Dendamnya masih membara. Langsung saja dikeluarkan jurus pamungkasnya: ia bayar gaji yang sebulan itu.

Pabrik rotinya maju.
Tapi sulit mendapatkan gula.
Beli gula harus antre. Satu orang hanya boleh antre untuk 1 kg.

Eka mencari pengantre bayaran. Tujuh orang. Satu bulan bisa mendapat 10 ton. Eka pun memerinci. Berarti satu orang antre di 40 tempat sehari.

Eka menjadi kaya kembali. Ia berani membeli mobil. Rp 70 ribu harganya. Tapi harus inden. Mobilnya baru tiba enam bulan kemudian.

Saat itulah temannya kesusahan. Perlu uang. Menyerahkan mobilnya. Hanya dengan harga Rp 30 ribu. Jadilah Eka punya dua mobil. Menjadi orang yang sangat terpandang.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar